14.000 Warga Menderita Kaki Gajah

Ilustrasi kesehatan. - Harian Jogja
16 Oktober 2019 21:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Penderita kaki gajah atau filariasis di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini terdapat lebih dari 14.000 penderita kaki gajah di Tanah Air.

Penyakit kaki gajah ditularkan oleh nyamuk yang terinfeksi cacing Wuchereria brancofti. Nyamuk Culex quinquefasciatus Say merupakan salah satu vektor penular kaki gajah.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, mengatakan penyakit kaki gajah dijumpai hampir di semua wilayah Indonesia. Setidaknya terdapat 28 provinsi yang menjadi endemis kaki gajah.

“Jumlah penderitanya juga terus meningkat, data per Oktober 2018 tercatat lebih dari 14.000 penderita kaki gajah di Indonesia,” ungkapnya, Selasa (15/10/2019).

Dalam penelitiannya Upiek Ngesti Wibawaning Astuti mengkaji tentang distribusi, perilaku, ekologi, keragaman genetik dan profil protein nyamuk Culex quinquefasciatus Say di daerah endemis filariasis. Kota Pekalongan dan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah dipilih sebagai lokasi penelitian karena daerah endemis tinggi kaki gajah.

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan nyamuk di daerah sampling melalui metode landing biting. Hasil pengujian di empat lokasi sampling diketahui habitat tempat perindukan nyamuk Culex quinquefasciatus Say di Kota Pekalongan serta Kabupaten Semarang cenderung menunjukkan persamaan meskipun di wilayah yang berbeda. Di keempat lokasi ditemukan nyamuk Culex quinquefasciatus Say dengan aktivitas biting dan resting yang berbeda baik periode waktu maupun jumlah individunya.

“Parameter lingkungan yang terukur, suhu, kelembapan udara dan kecepatan angin berpengaruh nyata terhadap aktivitasnya,” jelas dia.

Sebanyak 945 karakter genetik nyamuk tersebut telah teridentifikasi dari empat lokasi.

Sedangkan dari tempat perindukan nyamuk Culex quinquefasciatus Say di keempat lokasi, kajian secara ekologis menunjukkan persamaan, nyamuk juga menunjukkan variasi genetik yang tinggi dengan polimorfisme mencapai 100%.

Keberadaan molekul protein cecropin, defensin dan transferin mengindikasikan adanya respons biologis nyamuk terhadap infeksi cacing W. bancrofti. “Ini kemungkinan bisa menjadi indikator keberhasilan program pengobatan massal,” jelasnya.