Peringati Hari Santri, Ribuan Warga Gunungkidul Gelar Doa untuk Perdamaian

Acara peringatan Hari Santri Nasional dan Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri yang digelar di Alun-Alun Kota Wonosari, Sabtu (19/10) malam. - Harian Jogja/David Kurniawan
20 Oktober 2019 20:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ribuan warga dari penjuru Gunungkidul memadati area Alun-Alun Kota Wonosari untuk memperingati Hari Santri Nasional 2019, Sabtu (19/10/2019). Di dalam kegiatan ini juga digelar doa untuk perdamaian dan keselamatan negeri.

Ketua PC NU Gunungkidul, Arif Gunadi, mengatakan jajarannya menginisiasi peringatan Hari Santri Nasional 2019. Menurut dia, adanya Hari Santri merupakan wujud pengakuan bangsa terhadap perjuangan ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan Indonesia. “Ini bentuk tasyakuran terhadap Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober,” kata Arif kepada wartawan, Sabtu.

Menurut Arif, Hari Santri harus dijadikan sebagai motivasi untuk meningkatkan partisipasi santri dan ulama dalam menjaga kebersamaan, perdamaian dan terhindar dari aksi radikalisme dan terorisme. “Tidak boleh ada aksi anarkisme dan para santri harus ikut menjaga keamanan nasional. Untuk itu, selain menggelar tasyakuran kami juga menggelar doa bersama untuk kebaikan negeri. Apalagi di momen ini juga ada pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, harapannya ke depan Indonesia bisa lebih maju dan sejahtera,” katanya.

Doa bersama yang digelar tidak hanya untuk keselamatan negeri karena para santri juga meminta kepada Allah SWT segera menurunkan hujan. Untuk saat ini, kekeringan di Gunungkidul memasuki puncaknya sehingga banyak warga yang kesulitan air bersih. “Mudah-mudahan hujan segera turun sehingga dapat memberikan kesejahteraan kepada umat,” kata Arif.

Bupati Gunungkidul, Badingah, mengatakan peringatan Hari Santri Nasional harus dijadikan momentum membangkitkan dan mendorong semangat untuk meningkatkan peran pembinaan mental spiritual dalam bingkai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. “Semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang dimiliki santri harus terus dipupuk demi kemaslahatan umat, baik di Indonesia maupun dunia,” katanya.

Badingah menjelaskan, peringatan tahun ini bertema Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia. Isu perdampaian diangkat berdasarkan fakta bahwa sejatinya pesantren menjadi laboratoruium untuk perdamaian dunia. “Ajaran Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, Islam ramah dan moderat [wasatiyah]. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia,” kata dia.