Terbukti Korupsi Anggaran Kalurahan, Lurah Bohol Gunungkidul Dipecat
Pemkab Gunungkidul memecat Lurah Bohol Margana setelah kasus korupsi anggaran kalurahan 2022-2024 berkekuatan hukum tetap.
Seorang guru di SMP Negeri 1 Karangmojo menunjukkan cara kerja Google for Education untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar yang terhubung dengan sekolah lain, Senin (7/10/2019)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul berkomitmen untuk terus mengembangkan program Gunungkidul Cerdas. Program ini awalnya baru menyasar ke tiga sekolah, tapi ke depannya ditambah menjadi 30 sekolah.
Kepala Disdikpora Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengatakan program Gunungkidul Cerdas terselenggara berkat kerja sama dengan Google. Untuk saat ini masih sebatas pilot project dengan pelaksanaan di tiga sekolah yakni SMP Negeri 1 Karangmojo, SMA Neger I Playen dan SD Negeri 1 Wonosari. “Sudah diluncurkan mulai awal Oktober ini dan sudah mulai berjalan,” katanya, Jumat (18/10/2019).
Ke depannya, program diperluas dengan menyasar 30 sekolah di Gunungkidul. Hal yang sama berlaku untuk tenaga pengajar. Untuk saat ini ada 51 guru yang terlibat dalam pengembangan kegiatan belajar mengajar berbasis teknologi informasi. Seiring dengan rencana penambahan jumlah sekolah dalam program ini, maka jumlah guru juga ditambah sebanyak 200 orang. “Tentunya dengan program yang semakin luas, maka jumlah tenaga pendidik juga perlu ditambah,” katanya.
Diwacanakan program pelatihan guru untuk meningkatkan kapasitas dalam pelaksanaan Gunungkidul Cerdas akan dimulai November 2019. Diharapkan program ini bisa berjalan dengan baik sehingga kualitas pendidikan di Bumi Handayani dapat terus ditingkatkan. “Dengan program ini sangat membantu dalam upaya mendukung program kegiatan pembelajaran,” kata mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdikpora Gunungkidul ini.
Kepala Bidang SD Disdikpora Gunungkidul, Sumarto, mengatakan proses pembelajaran dalam program Gunungkidul Cerdas tidak mengenal tempat. Pasalnya, dengan teknologi komputerisasi, proses pembelajaran bisa dilakukan tanpa harus bertatap muka secara langsung. “Para siswa dan guru memiliki akun yang dimanfaatkan untuk pembelajaran bersama,” katanya.
Menurut dia, program ini memiliki banyak keunggulan karena guru yang dihadirkan tidak hanya dari satu sekolah saja. “Guru di sekolah lain juga bisa ikut mengajar melalui teleconference,” katanya.
Sumarto menuturkan metode pembelajaran berbasis teknologi ini sudah banyak diterapkan di sekolah swasta dengan biaya mencapai Rp5juta hingga Rp16 juta per bulan. Namun untuk di Gunungkidul layanan akan diberikan secara gratis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul memecat Lurah Bohol Margana setelah kasus korupsi anggaran kalurahan 2022-2024 berkekuatan hukum tetap.
Mahasiswi S3 asal Jepang ditemukan tak sadarkan diri di indekos Caturtunggal, Sleman. Polisi dan tim medis UGM mengevakuasinya ke RS Panti Rapih.
Ahrie Sonta Nasution menjadi salah satu tersangka kasus dugaan penyadapan Prabowo. Simak profil, pendidikan, dan perjalanan kariernya.
Sepuluh negara memiliki aturan penyadapan komunikasi yang mengatur kewenangan, prosedur, pengawasan, dan larangan penyadapan ilegal.
Rumah Sakit Saras Adyatma Bantul mulai melayani pemeriksaan kesehatan penunjang bagi calon jemaah haji Kabupaten Bantul untuk keberangkatan 2027.
BPS DIY memproyeksikan produksi beras 2026 mencapai 329.020 ton, naik 5,79% dibandingkan tahun sebelumnya.