Proyek Tol Solo-Jogja-Bawen Bisa Dihentikan karena Faktor Ini

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
06 November 2019 18:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) akan meminta proyek tol Solo-Jogja-Solo dihentikan untuk sementara apabila ada situs bersejarah yang dilewati jalur tol tersebut.

Kepala Unit Penyelamatan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB DIY, Muhammad Taufik, mengatakan lembaganya akan meminta pemindahan jalur tol apabila melewati situs budaya yang signifikan. “Tetapi kalau tidak signifikan kami akan dokumentasikan, kemudian mereka bisa melanjutkan,” ujar Taufik kepada Harian Jogja, Rabu (6/11/2019).

Terdapat ribuan benda purbakala yang diduga masih terpendam di wilayah Sleman. Sebelumnya, Pemda DIY sudah menegaskan jalur tol tak boleh merusak cagar budaya maupun wilayah-wilayah yang berpotensi menyimpan benda purbakala.

BPCB, kata Taufik, sudah tidak dilibatkan dalam rapat maupun kajian proyek pembangunan jalan bebas hambatan ini. “Terakhir sekitar April 2019. Setelah itu BPCB tidak pernah dilibatkan. Mungkin yang diundang Dinas Kebudayaan Sleman,” kata dia.

Taufik mengatakan dalam rapat terakhir yang diikuti BPCB, alternatif trase atau poros jalan tol yang diperlihatkan kepada BPCB tidak ada yang menabrak atau bersinggungan dengan keberadaan situs bersejarah. “Kami juga minta adanya penelitian seandainya dalam pelaksanaannya ada temuan cagar budaya,” ujar dia.

Rekomendasi lain yang BPCB berikan kepada pelaksana proyek pembangunan jalan tol adalah tidak boleh menabrak cagar budaya dan berjarak sekurangnya 50 meter dari pagar terluar cagar budaya.

Di wilayah Sleman banyak terdapat situs sejarah. Keberadaannya kadang baru terungkap saat pembangunan infrastruktur. Misalnya penemuan sebuah candi saat pembangunan perpustakaan UII.

Situs ini ditemukan secara tidak sengaja pada 11 Desember 2009 ketika penggalian fondasi proyek pembangunan perpustakaan UII. Candi ini terkubur sekitar lima meter di bawah tanah.

Masterplan pembangunan gedung UII terpaksa diubah setelah penemuan candi yang dinamakan Candi Kimpulan atau Pustakasala.

Terdapat sejumlah candi, situs sejarah, dan stupa di Sleman. Antara lain Situs Penampungan Sayegan, Penampungan Mlati, Penampungan Turi, Candi Palgading, Candi Morangan, Candi Gebang, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kalasan, Candi Kedulan, Candi Prambanan, Ratu Boko, Situs Watu Gudig, Gua Jepang, Gua Sentono, Candi Abang, Masjid Wotgaleh, Candi Banyunibo, Candi Dawang Sari, Candi Barong, Candi Ijo, Candi Miri, Candi Sumur Bandung, Stupa Sumber Watu dan Situs Arca Gopala.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Sumadi menyatakan telah mengajukan rekomendasi kepada Pemerintah Pusat agar pembangunan jalan tol Jogja-Solo-Bawen tidak akan merusak situs cagar budaya.

“Itu menjadi komitmen bersama pemerintah pusat, semoga rute yang dilalui tol tidak ada cagar budaya. Jika ada, terpaksa harus dihindari dan cari alternatif lain,” ujar Sumadi beberapa waktu lalu.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satker Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Jogja-Solo dan Jogja-Bawen Totok Wijayanto memastikan trase pembangunan tol di DIY tidak menabrak situs cagar budaya. “Untuk Jogja memang agak lama karena kami sangat hati-hati, selalu berkonsultasi dengan Pemda DIY, Ngarsa Dalem [Gubernur DIY HB X] karena mencoba mencari trase paling aman, bagus dan menghindari situs [cagar budaya], kawasan penduduk,” ujarnya.