Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Ketua LPMK Karangwaru, Subandono menunjukkan alat pengolah sampah di Kelurahan Karangwaru, Kamis (14/11/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Sampah yang setiap hari diproduksi oleh rumah tangga maupun industri menjadi persoalan yang yang memerlukan kepedulian bersama baik dari pemerintah juga masyarakat untuk menanggulanginya. Beberapa kali ditutupnya TPST Piyungan di Bantul seharusnya menjadi alasan untuk memulai gerakan mengelola sampah dengan lebih cermat.
Sejumlah wilayah telah melakukan pengelolaan sampah dengan berbagai inovasi, seperti bank sampah, daur ulang untuk kerajinan dan lainnya. Salah satunya adalah yang ada di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, di mana kelurahan bersama warga menginisiasi pembuatan alat pengolah sampah.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Karangwaru, Subandono, mengatakan di Kecamatan Tegalrejo ada tiga alat pengolah sampah dengan model yang berbeda-beda. Di Bener dengan tembok, Karangwaru dengan stainless dan cerobong asap, lalu Kricak dengan skala kecil dan asap yang disemprot menggunakan air ke bawah.
“Di tempat kami sebenarnya pengelolaan sampah sudah jalan, tetapi memang belum sepenuhnya difungsikan. Tinggal cerobong asapnya dinaikkan ke atas. Sebenarnya sempat dicoba sampai 14 gerobak sampah dalam satu hari sudah tidak ada masalah, artinya bisa terbakar sempurna dan asapnya tidak tebal,” katanya, Kamis (14/11/2019).
Alat pengolah sampah tersebut, kata dia, berkapasitas satu truk atau sekitar empat kubik, dengan durasi enam jam. Ia mengungkapkan alat ini dibuat menggunakan Dana Stimulan Kelurahan Tahap Pertama pada sekitar Juni lalu. “Setelah serah terima dari kelurahan, kami dari LPMK langsung benahi,” katanya.
Alat ini meniru alat serupa dari Cirebon. Proses pembuatannya pun mendatangkan langsung tenaga teknis dari Cirebon, yang selanjutnya masyarakat juga diajari. Saat ini pihaknya sedang membersihkan saringan alat untuk selanjutnya disempurnakan dan bisa kembali dipakai.
Lantaran kapasitasnya yang masih kecil, untuk sementara alat pengolah sampah ini hanya bisa digunakan sebatas untuk dua kampung, yakni Karangwaru Lor dan Blunyahrejo. “Harapannya setelah disempurnakan bisa menyebar untuk seluruh kampung di Karangwaru,” ujarnya.
Dia menargetkan ke depan warga tidak perlu membuang sampah sampai ke TPST Piyungan, melainkan dimusnahkan dengan alat pengolah sampah. Ini menjadi salah satu uji coba kalau suatu waktu TPST Piyungan ditutup, maka warga sudah siap dengan alat ini.
Lurah Karangwaru, Sulasmi, mengatakan sampai saat ini kelurahannya masih menguji coba penggunaan alat pengolah sampah ini, sehingga masih perlu sejumlah penyempurnaan. “Semisal terkait dengan asap, jangan sampai mengganggu warga,” katanya.
Alat ini kata dia, bisa membakar baik sampah organik maupun nonorganik. Tapi kalau keduanya dicampur, maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Maka ia mengimbau warga untuk mmilah terlebih dulu sampahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
13 Agustus 2026 diperingati sebagai HUT Mahkamah Konstitusi RI ke-23 dan Hari Pengguna Tangan Kiri Internasional. Simak sejarah dan makna kedua peringatan ini
Cek rute Trans Jogja aktif dan tarif terbaru 2026. Pembayaran bisa memakai QRIS, GoPay, kartu elektronik, hingga kartu pelajar.
Ramalan zodiak 13 Agustus 2026 untuk asmara, karier, dan keuangan. Ada 5 zodiak yang rentan bosan dengan pasangan. Simak prediksi lengkapnya di sini
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan berdasarkan data resmi KAI Access.