Kesbangpol Gunungkidul Targetkan Banpol Rp1,1 Miliar Cair Triwulan II
Kesbangpol Gunungkidul menargetkan pencairan bantuan keuangan partai politik sebesar Rp1,17 miliar pada triwulan kedua 2026.
Jayadi (jongkok) menunjukkan cara kerja atabela untuk menanam padi di lahan pertanian Dusun Kernen, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Selasa (3/12/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jayadi, seorang petani warga Dusun Kernen, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, membuat inovasi di bidang pertanian. Ia membuat alat tanam benih langsung (atabela) yang diklaim bisa mempersingkat masa penanaman padi jenis gogo.
“Ide muncul karena keprihatinan kurangnya regenerasi petani serta makin berkurangnya lahan di Gunungkidul,” kata Jayadi kepada wartawan, Selasa (3/12/2019).
Alat ini memiliki ukuran tidak terlalu besar dan memiliki dua roda mirip mesin traktor, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Di depan ada semacam besi yang berfungsi untuk mencangkul dan dilengkapi alat untuk menutup tanah yang telah dicangkul. “Ada dua tabung yang berfungsi sebagai wadah benih yang ditanam,” katanya.
Adapun cara kerja alat ini harus dioperasikan dua orang untuk menarik dari depan dan mendorong dari belakang. Ia mengklaim atabela tidak membutuhkan mesin karena dioperasikan secara manual. “Tinggal didorong dan ditarik nanti benih sudah bisa keluar dari tabung,” katanya.
Jayadi mengklaim dengan alat ini waktu penanaman padi gogo lebih singkat. Sebagai gambaran untuk menanam benih padi secara manual di lahan seluas satu hektare membutuhkan tenaga empat orang dengan waktu beberapa hari. “Dengan atabela hanya dikerjakan dalam waktu 20 jam saja. Dengan alat ini praktis menghemat biaya operasional petani,” katanya.
Atabela juga dibentuk untuk penanaman dengan model jejer legowo sehingga dapat meningkatkan produktivitas hingga 30%. “Jadi tidak perlu ribet karena bisa langsung diaplikasikan. Atabela sangat cocok dengan kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi kawasan karts,” katanya.
Jayadi mengakui hingga saat ini belum mematenkan alat pertanian yang dibuat. “Ke depan akan saya patenkan sehingga dapat melindungi alat yang saya buat,” katanya.
Salah seorang petani di Desa Ngunut, Sutrisno, mengatakan selama ini dia menanam padi secara tradisional. Menurut dia untuk penanaman membutuhkan beberapa orang agar bisa menyelesaikan petak lahan yang dimiliki. “Saya belum tahu kalau ada alat yang bisa digunakan untuk menanam secara lebih cepat dan efektif. Mudah-mudahan alat ini bisa dibuat lebih banyak dengan bantuan pemerintah sehingga dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kesbangpol Gunungkidul menargetkan pencairan bantuan keuangan partai politik sebesar Rp1,17 miliar pada triwulan kedua 2026.
Hari Keluarga Internasional 2026 menyoroti dampak ketimpangan sosial terhadap kesejahteraan anak dan kondisi keluarga.
Enam wakil Indonesia gugur di Thailand Open 2026. Leo/Daniel dan Hira/Jani jadi harapan terakhir menuju semifina
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa