Bukan Hanya Keindahan Alam, Ini Daya Tarik Wisata yang Juga Asyik Dinikmati di Kulonprogo

Pentas tari dalam Nglinggo Uniquely 2 di Kecamatan Samigaluh, Minggu (20/10/2019).-Harian Jogja - Desi Suryanto
03 Desember 2019 09:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :


Harianjogja.com, KULONPROGO- Dinas Pariwisata Kulonprogo tengah gencar-gencarnya mengembangkan desa wisata berserta atraksinya sebagai alternatif wisata di Kulonprogo. Ini dilakukan untuk mengantisipasi kejenuhan wisatawan terhadap wisata alam.

Sekretaris Dispar Kulonprogo, Nining Kunwantari mengatakan kejenuhan wisatawan terhadap wisata alam pasti akan ada meski tidak dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu sebagai antisipasi, pihaknya mendorong tumbuhnya desa-desa sebagai desa wisata dan mengembangkan atraksi budaya jadi daya tarik baru bagi para pelancong.

Langkah ini juga sebagai salah satu upaya menyambut beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) dan mendukungĀ  Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

"Ini merupakan anugerah sekaligus tantangan bagi kami, bagaimana caranya agar Kulonprogo tetap jadi daya tarik wisatawan, salah satunya dengan mengembangkan atraksi wisata dan desa wisata," ujarnya, Senin (2/12/2019).

Untuk merealisasikan hal itu, Dispar sudah rutin menggelar pelatihan kepada seluruh pengelola desa wisata. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan terhadap wisatawan juga fasilitas yang tersedia di masing-masing desa wisata.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Dispar Kulonprogo, Yudono Hindri Atmoko menambahkan di samping pengembangan desa wisata, langkah lain yang dilakukan pihaknya untuk kian mensrik wisatawan adalah dengan menggali potensi-potensi lokal berdasarkan cerita rakyat setempat. Di Kulonprogo lanjutnya banyak terdapat cerita rakyat ataupun legenda yang kisahnya bisa diangkat untuk menarik kunjungan wisata.

Dia mencontohkan obyek wisata Gua Kiskendo yang lekat dengan legenda Sugriwa Subali, Kecamatan Lendah dengan kisah Kyai jangkung, hingga Pule Payung dengan petilasan Sunan Kalijaga. "Potensi untuk diangkat jadi daya tarik wisata sangatlah tinggi, ini yang sekarang sedang kami coba gali, sehingga wisatawan tidak hanya plesiran, tapi juga belajar sejarah," ucapnya.

Sementara itu Komisi IV DPRD Kulonprogo, menilai dispar belum memiliki inovasi dan konsep yang jelas terkait percepatan pengembangan pariwisata. Kedua hal itu dibutuhkan dalam upaya pengembangan potensi wisata, baik objek wisata yang dikelola pemerintah kabupaten maupunĀ  masyarakat.

"Selama ini Dispar hanya mengejar tiket, bukan jualan paket. Seharusnya, mereka mulai merubah pemikiran itu, dan segera membikin inovasi baru untuk wisata Kulonprogo," ujar Ketua Komisi IV DPRD, Istana.

Politikus PDI Perjuangan ini menyarankan Dispar belajar ke Banjarnegara, Jawa Tengah, perihal pembuatan konsep paket wisata. Menurutnya Banjarnegara memiliki kalender kegiatan pariwista dan budaya yang lumayan banyak dalam satu tahun, yang kemudian dijadikan paket wisata.

"Paket wisata inilah yang menggerakan perekonomian kerakyatan, karena setiap kegiatan pihak-pihak yang terlibat sangat banyak sekali. Mulai dari kelompok sadar wisata [pokdarwis], pemerintah desa, pemuda, pedagang, hingga pelaku UKM yang bergerak dalam mensukseskan kegiatan pariwisata dan budaya yang dikemas dalam paket wisata," ucapnya.

Istana, juga meminta Dispar harus berani membikin inovasi untuk menggerakkan potensi lokal, jangan hanya sekadar pelatihan dan pendampingan. Dari sisi Dewan, pihaknya mendorong adanya revisi perda percepatan pengembangan wisata 2020.