Stefanie Agnesia Villiana: Ingin Berkontribusi bersama Koko Cici Jogja

Stefanie Agnesia Villiana/ Ist. - dok. pribadi
05 Desember 2019 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJABerawal dari mengikuti ajakan teman, untuk audisi Koko Cici Jogja, Stefanie Agnesia Villiana yang kini menjadi Cici Jogja 2019 ingin memberikan kontribusi positif baik bagi Koko Cici Jogja, maupun kontribusi keluar.   

Stefanie sapaan akrabnya menceritakan awal ia mengikuti Koko Cici Jogja, karena diajak temannya yang bernama, Angela. Pada awalnya ia belum begitu tertarik dan tidak percaya diri karena merasa tidak punya talent yang ingin di tampilkan. Kemudian, rekannya terus mengajaknya dan menyuruh untuk mencoba. Akhirnya Stefanie memberanikan diri untuk mencoba.

“Saya mengenal orang-orang baru. Mulai tertarik karena merasa Koko Cici Jogja memiliki nilai kekeluargaan yang tinggi, saya ingin keluar dari zona nyaman saya, karena merasa di Koko Cici Jogja pada awalnya bukan stefanie banget dan saya tidak begitu kenal orang-orang didalamnya, selain itu saya tipikal yang suka bertemu dengan orang baru, sehingga hal itu yang mendorong saya untuk bisa ikut Koko Cici Jogja,” ucap perempuan kelahiran Tarakan 20 tahun silam itu, Rabu (4/12).

Kini sebagai Cici Jogja 2019, ia berharap berkontribusi nyata dan mampu membawa dampak positif baik bagi di dalam maupun di luar Koko Cici Jogja. Hal ini menurutnya bisa di mulai dari hal-hal kecil dengan menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu mengenalkan Koko Cici Jogja adalah sebuah organisasi di mana menjadikannya bisa belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Untuk membawa Koko Cici Jogja dengan tindakan dan perilaku yang saya perlakukan kepada orang lain dengan baik juga, dengan berbagi pengalaman dan melalui hal kecil menurut saya sedikit demi sedikit adalah hal yang dapat saya sumbangkan,” ucapnya.

Perempuan yang tengah menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta tersebut mengungkapkan selama berproses di Koko Cici Jogja tidak terlepas dari suka duka. Namun, suka duka tersebut dirasanya membuat ia menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa dan menambah pengalamannya melihat dan mengatasi berbagai situasi. Banyak pelajaran dan membuatnya semakin berkembang suka duka tersebut. 

Melestarikan Budaya

Sebagai Cici Jogja, Stefanie berusaha melestarikan budaya Tionghoa melalui pelaksanaan program kerja dengan turut memperingati beberapa hari besar yang ada. Salah satunya yang terakhir pada September, bersama dengan muda-mudi Jogja Chinese Arts & Culture Centre (JCACC) serta JCACC, pihaknya mengadakan fragmen atau drama musikal dan berbagai penampilan lainnya dalam rangka memperingati Moon Cake Festival atau Zhong Qiu Jie yang dilaksanakan di Kelenteng Poncowinatan. Acara tersebut dilaksanakan terbuka untuk umum dan disambut dengan antusiasme masyarakat yang sangat besar.

Dia mencoba untuk melestarikan budaya Tionghoa yang ada dengan lebih ringan dan bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Tidak hanya itu, agenda tahunan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) juga menjadi salah satu bentuk melestarikan budaya Tionghoa dengan pengemasan yang lebih menarik, dengan berbagai aksi nyata yang Koko Cici Jogja dapat wujudkan hal ini mampu terus melestarikan budaya Tionghoa.

“Tentunya, kami juga berusaha menggandeng dan mengajak partisipasi dari teman-teman lainnya agar bisa juga sama-sama dapat melestarikan budaya Tionghoa dan ikut mengetahuinya,” ujar perempuan yang memiliki hobi mendengar musik dan jalan-jalan itu.

Ia berharap generasi muda saat ini bisa menjadi pribadi yang mau terus belajar dan percaya diri dengan apa yang dimiliki. Tidak mudah putus asa, dan bisa mencoba hal baru dengan tidak takut. berkomitmen, yakin, bertanggung jawab, mau belajar adalah kunci penting yang tentunya perlu ada, dengan begitu mampu menemukan banyak hal baru dan berbagai pengalaman yang tidak dapat di gantikan oleh hal lain.

Ia juga berharap para calon peserta bahkan finalis yang nantinya berpartisipasi dan menjadi bagian dari Koko Cici Jogja bisa saling solid, berkontribusi secara nyata dan mewujudkan serta mempertanggungjawabkan apa yang dikatakan. Bukan hanya sebagai sebuah rencana tetapi bisa dengan nyata merealisasikan apa yang direncanakan sebagai sebuah aksi yang berdampak positif bagi sekitar maupun scecara luas.

Dia mendorong anak muda mesti yakin dan percaya pada diri sendiri, tidak mudah terbawa arus, dan tersulut akan berbagai informasi yang diperoleh. Open minded tetapinamun harus bisa selektif agar tidak mudah menghakimi. “Tidak melihat orang lain lebih baik namun, menjadikan orang lain menjadi motivasi adalah cara berpikir yang lebih baik. Percaya, bahwa setiap individu memiliki karakter dan keistimewaan. Mencintai diri semdiri dan memiliki rasa peduli dam menghargai adalah hal penting. Jangan lupa, tiga kata ajaib yang perlu selalu diingat, terima kasih, maaf dan tolong,” ucapnya.