31 Kalurahan Gunungkidul Gelar Pilur September 2026, Ini Daftarnya
Pemkab Gunungkidul memastikan pilur serentak digelar September 2026 di 31 kalurahan yang tersebar di 17 kapanewon.
Asti Wijayanti/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Potensi pariwisata di Bumi Handayani begitu melimpah. Tingkat kunjungan pun meningkat signifikan sejak 2012. Meski demikian, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul, Asti Wijayanti, menyadari bahwa sektor kepariwisataan masih butuh dikembangkan.
“Intinya citra pariwisata tak bisa dibentuk secara instan karena butuh waktu yang tidak sebentar. Sebagai contoh untuk pengembangan Desa Wisata Nglanggeran butuh waktu sekitar lima sampai 10 tahun untuk bisa seperti sekarang ini,” kata Asti kepada Harian Jogja, Jumat (6/12/2019).
Menurut dia, patron wisata saat ini masih tertuju ke Pulau Bali. Di Bali pariwisata sudah menjadi yang utama dan masyarakatnya sudah mengerti bagaimana pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman terhadap wisatawan yang datang. “Ini yang belum dipunyai Gunungkidul. Untuk bisa mencapai itu maka utuh proses yang tidak sebentar,” katanya.
Asti mengungkapkan kesadaran masyarakat khusus pelaku wisata yang kurang menjadi tantangan yang harus dipecahkan. Ia menuturkan untuk pengembangan sektor kepariwisataan sudah mengacu kepada sapta pesona. Meski demikian, tujuh prinsip ini belum dijalankan dengan baik dalam pengembangan di Gunungkidul.
Sebagai contoh di beberapa destinasi masih terjadi konflik yang melibatkan warga sekitar. Kondisi ini apabila dibiarkan tidak baik sehingga berpengaruh dalam upaya pengembangan. Hal ini dikarenakan adanya konflik bisa mempengaruhi rasa aman dan kenyamanan wisatawan saat berkunjung. Padahal, prinsip tersebut sudah termuat dalam program sapta pesona pariwisata. “Kami terus beruapaya mengaplikasikan prinsip-prinsip sapta pesona kepada para pelaku wisata dengan terus memberikan pendampingan,” katanya.
Selain melatih sumber daya manusia untuk lebih peka terhadap wisatawan, tantangan lain dalam pengembangan juga berkaitan dengan pengembangan infrastrukur. Di dalam kepariwisataan mengenal tiga A yang meliputi aksesbilitas, amenitas dan atraksi.
Untuk aksesibilatas dan amenitas, Pemkab telah berusaha untuk memberikan kemudahan akses dan fasilitas kepada pengunjung. Namun upaya ini terus dilakukan sehingga bisa memberikan rasa nyaman kepada pengunjung. “Untuk atraksi kami juga terus menggelar acara yang bisa menjadi daya tarik wisatawan. Yang jelas kami akan terus upaya dalam pengembangan pariwisata Gunungkidul yang lebih baik lagi,” kata mantan Sekretaris Dinas Pertanahan dan Tata Ruang ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul memastikan pilur serentak digelar September 2026 di 31 kalurahan yang tersebar di 17 kapanewon.
Puncak haji 2026 segera dimulai. Simak jadwal Armuzna, tahapan wukuf di Arafah, dan tips persiapan jemaah haji.
Mensos Gus Ipul menonaktifkan dua pejabat pengadaan Sekolah Rakyat terkait investigasi dugaan maladministrasi pengadaan barang.
KPK mendalami hubungan Wali Kota Madiun nonaktif Maidi dengan pengusaha EO terkait kasus dugaan korupsi proyek dan CSR.
Pembangunan gedung baru SDN Nglarang terdampak Tol Jogja-Solo di Sleman ditarget mulai Mei 2026 setelah pematokan lahan rampung.
Ditjenpas membantah video viral dugaan sel mewah dan penggunaan HP di Lapas Cilegon serta menegaskan pengawasan tetap dilakukan.