Sensus Ekonomi 2026 di Gunungkidul Libatkan 1.039 Petugas
Sensus Ekonomi 2026 di Gunungkidul melibatkan 1.039 petugas hingga 31 Agustus. BPS mengajak warga berpartisipasi memberikan data yang akurat.
Asti Wijayanti/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Potensi pariwisata di Bumi Handayani begitu melimpah. Tingkat kunjungan pun meningkat signifikan sejak 2012. Meski demikian, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul, Asti Wijayanti, menyadari bahwa sektor kepariwisataan masih butuh dikembangkan.
“Intinya citra pariwisata tak bisa dibentuk secara instan karena butuh waktu yang tidak sebentar. Sebagai contoh untuk pengembangan Desa Wisata Nglanggeran butuh waktu sekitar lima sampai 10 tahun untuk bisa seperti sekarang ini,” kata Asti kepada Harian Jogja, Jumat (6/12/2019).
Menurut dia, patron wisata saat ini masih tertuju ke Pulau Bali. Di Bali pariwisata sudah menjadi yang utama dan masyarakatnya sudah mengerti bagaimana pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman terhadap wisatawan yang datang. “Ini yang belum dipunyai Gunungkidul. Untuk bisa mencapai itu maka utuh proses yang tidak sebentar,” katanya.
Asti mengungkapkan kesadaran masyarakat khusus pelaku wisata yang kurang menjadi tantangan yang harus dipecahkan. Ia menuturkan untuk pengembangan sektor kepariwisataan sudah mengacu kepada sapta pesona. Meski demikian, tujuh prinsip ini belum dijalankan dengan baik dalam pengembangan di Gunungkidul.
Sebagai contoh di beberapa destinasi masih terjadi konflik yang melibatkan warga sekitar. Kondisi ini apabila dibiarkan tidak baik sehingga berpengaruh dalam upaya pengembangan. Hal ini dikarenakan adanya konflik bisa mempengaruhi rasa aman dan kenyamanan wisatawan saat berkunjung. Padahal, prinsip tersebut sudah termuat dalam program sapta pesona pariwisata. “Kami terus beruapaya mengaplikasikan prinsip-prinsip sapta pesona kepada para pelaku wisata dengan terus memberikan pendampingan,” katanya.
Selain melatih sumber daya manusia untuk lebih peka terhadap wisatawan, tantangan lain dalam pengembangan juga berkaitan dengan pengembangan infrastrukur. Di dalam kepariwisataan mengenal tiga A yang meliputi aksesbilitas, amenitas dan atraksi.
Untuk aksesibilatas dan amenitas, Pemkab telah berusaha untuk memberikan kemudahan akses dan fasilitas kepada pengunjung. Namun upaya ini terus dilakukan sehingga bisa memberikan rasa nyaman kepada pengunjung. “Untuk atraksi kami juga terus menggelar acara yang bisa menjadi daya tarik wisatawan. Yang jelas kami akan terus upaya dalam pengembangan pariwisata Gunungkidul yang lebih baik lagi,” kata mantan Sekretaris Dinas Pertanahan dan Tata Ruang ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sensus Ekonomi 2026 di Gunungkidul melibatkan 1.039 petugas hingga 31 Agustus. BPS mengajak warga berpartisipasi memberikan data yang akurat.
Kemacetan tidak hanya menguras waktu, tetapi juga mempercepat kerusakan mobil. Kenali empat dampak utama macet terhadap mesin, rem, dan konsumsi BBM.
Pemkab Bantul meresmikan Jogging Track Paseban sebagai fasilitas olahraga ramah lingkungan dan bagian dari target pembangunan lintasan lari di 17 kapanewon.
Janice Tjen/Aldila Sutjiadi kalah dramatis di tie-break Wimbledon 2026. Perlawanan sengit, namun harus akui keunggulan Kostyuk/Ruse. Aldila masih bertahan di ga
Fardhan Rainanda Joe gagal juara BAJC 2026 usai kalah dari Hong Tian Yue asal China. Indonesia pulang tanpa gelar dari Kejuaraan Asia Junior 2026
Bocoran Project Aion mengungkap konsep Windows masa depan yang menjadikan Copilot sebagai pusat sistem dan menghapus Start Menu serta Taskbar.