Sejak 2017, Jumlah Kasus Keracunan Makanan di Sleman Terus Meningkat

Ilustrasi keracunan - JIBI
09 Desember 2019 18:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah kasus keracunan akibat makanan yang terjadi di Sleman terus meningkat sejak 2017. Sumber keracunan pun beragam, mulai dari skala keluarga, jajanan, hingga makanan dari penyedia jasa katering.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Kewaspadaan Keracunan Makanan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Gunanto mengatakan jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, jumlah kasus keracunan yang terjadi di Sleman tahun ini memang meningkat. Untuk tahun ini, kata dia, hingga bulan ini jumlahnya mencapai 16 kasus.

Terkait dengan penyebabnya, berdasarkan data Dinkes, terbanyak bersumber dari produk makanan dari katering, terutama katering yang tidak resmi. Sedangkan sisanya berasal jari jajanan sekolah dan makanan dari katering yang legal dan industri rumah tangga. “Korban keracunan, terbanyak dari dari kalangan masyarakat umum dan pegawai institusi. Kalau untuk siswa sekolah tidak begitu banyak,” ucap dia kepada Harianjogja.com, Senin (9/12/2019).

Guna mengantisipasi kasus keracunan, pihaknya berupaya untuk terus mengedukasi, baik kepada masyarakat secara umum, maupun terhadap pelaku usaha, khususnya terkait dengan sertifikasi laik sehat.

Dia menambahkan setiap menerima laporan, TRC Dinkes akan melakukan sejumlah upaya di antaranya tim akan mengecek lokasi. "Kami akan prioritaskan tindakan pertama pada korban, beru setelah itu mencari dan menelusuri penyebabnya [keracunan]," ujar Gunanto.

Soal upaya penyelidikan, dia menjelaskan, kali pertama akan dicek dugaan sumber keracunan. Jika kasus keracunan disebabkan oleh makananan, maka pihaknya akan mencari sampel makanannya. "Kami akan fokus ke orang atau korban dari sisi yang makan berapa yang tidak makan berapa dari yang makan itu keracunan berapa dan tidak berapa, upaya itu juga untuk menentukan kegawatan dari sifat keracunan tersebut," ujar dia.