Ratusan Buruh Pabrik di Sleman Keracunan, Dinkes Bakal Lakukan Audit Kasus

Petugas BBPOM DIY melakukan uji laboratorium terhadap ikan teri medan yang dijual di Pasar Argosari, Kecamatan Wonosari, Senin (15/4/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
06 Desember 2019 14:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Kewaspadaan Keracunan Makanan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Gunanto menjelaskan pihaknya sudah melakukan penyelidikan atas kejadian keracunan yang menimpa ratusan buruh pabrik.

Tindakan dari tim TRC ketika ada laporan mengenai keracunan, lanjut Gunanto, akan dilaksanakan upaya diantaranya pertama, tim akan melakukan cek lokasi yang akan memperhatikan dua hal. "Antara lain mengamankan penderita dan kedua mencari atau menelusuri penyebabnya," ujar Gunanto kepada Harianjogja.com, Kamis (5/12/2019).

Upaya penyelidikan pertama kali akan dilihat dugaan sumber keracunan. Jika kasus keracunan makan, pihaknya akan mencari sampel makanannya dan yang tidak kalah penting juga akan dilakukan observasi tiga unsur yaitu terkait orang tempat dan waktu.

"Kami akan fokus ke orang atau korban dari sisi yang makan berapa yang tidak makan berapa dari yang makan itu keracunan berapa dan tidak berapa, upaya itu juga untuk menentukan kegawatan dari sifat keracunan tersebut," ungkapnya.

Gunanto mengatakan, korban memang secara teknis medis sudah dirujuk sesuai dengan indikasi masing-masing. "Jika perlu rawat jalan akan dilaksanakan rawat jalan dan selebihnya tindakan yang lain sesuai dengan indikasi medis," jelasnya.

Pihaknya juga akan mengimbau PT Mataram Tunggal Garment untuk lebih berhati-hati dan memberikan informasi agar kejadian ini tidak terulang lagi.

"Ini merupakan kejadian kedua kalinya yang menimpa PT Mataram Tunggal Garment, kami akan minta dari pihak PT untuk selalu waspada dan menyeleksi penyedia catering termasuk salah satunya pengadaan makanan dan menyisakan satu porsi untuk upaya kewaspadaan," jelasnya.

Dari kasus keracunan, pihaknya sudah mengamankan beberapa sampel. Sampel makanan nantinya akan dikirim ke laboratorium untun dilakukan pengujian dengan tenggat waktu yang tidak terlalu lama artinya secepatnya. "Begitu kita dapat sampel dan kita dapatkan kronologisnya lalu sampel kita kirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian," ujarnya.

Gunanto menambahkan pihaknya akan melakukan studi epidemiologi atau semacam studi kasus untuk melihat kecenderungan keracunan dari makanan A, B, atau C.

"Upaya itu tidak bisa dilakukan sekarang [kemarin] karena penderita masih trauma besok kami akan melengkapi data lapangan, jadi hari ini mengkoordinasikan pasien dan mengamankan sampel yang akan dikirim ke laboratorium," ujarnya.

Langkah selanjutnya, lanjut Gunanto, besok akan dilakukan wawancara kepada tiap korban keracunan. "Jadi seseorang akan ditanyakan satu per satu. Kamu makan ini ndak, nah nanti akan ketahuan yang paling sering makan A dan ternyata paling banyak sakit, nah itulah dugaan kita mengarah ke situ, baru kemudian dikroscek dengan hasil laboratorium," jelasnya.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh jajarannya, ada tiga penyedia catering yang mensuplai makanan kepada karyawan PT MTG. "Karena memang karyawan banyak sekali dan jika diampu oleh satu catering dinilai tidak cukup,"

Tiga catering, lanjut Gunanto, menyediakan menu yang hampir sama yaitu nasi sayur dan lauk. "Hanya bedanya terdapat di lauk, ketiga penyedia catering memang memberikan lauk yang berbeda. Ada ikan ayam, dan telur," jelasnya.

Total pekerja yang mengalami keracunan itu sekitar 105 namun populasi yang makan catering sekitar 600 orang. "Artinya yang baik baik saja juga banyak masih banyak yang makan tapi tidak sakit, namun tetap saja makanan itu harus zero effect, satu saja yang keracunan itu sebenarnya tidak baik," jelasnya.

Hal itu dipengaruhi oleh daya tahan masing-masing individu. "Karena kasus keracunan itu sifatnya sangat individual," imbuhnya.

Audit juga akan dilakukan oleh Dinkes ke perusahaan perusahaan yang ada di Bumi Sembada pasca kejadian keracunan yang menimpa PT Mataram Tunggal Garment.

"Setelah informasi lapangan, laboratorium dan informasi dari pihak pihak catering kita dapatkan, kami akan melakukan audit kasus namun jaraknya sekitar dua Minggu setelah kejadian," imbuhnya.

Audit kasus akan mempertemukan dari berbagai pihak karena setelah kejadian keracunan ini pihaknya juga akan meluncur ke penyedia catering untuk melihat proses makanan yang mereka buat.

"Setelah itu semua dilakukan kita akan membuat kesimpulan yang secara teknis tidak terbantahkan, artinya sesuai dengan ilmu epidemiologi keracunan makanan," terangnya.

Dari hasil penyelidikan nanti akan dijadikan bahan untuk penyedia catering terkait dengan ada atau tidaknya sanksi yang akan dijatuhkan. "Ada atau tidak adanya sanksi itu tergantung dengan hasil laboratorium," tutupnya.