Kemah Pancasila Pelajar Indonesia di Tebing Breksi Berlangsung Sukses

Suasana Kemah Pancasila Pelajar Indonesia di Tebing Breksi, Minggu (15/12/2019). - Ist
15 Desember 2019 20:27 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Kegiatan akbar Kemah Pancasila Pelajar Indonesia (KPPI) yang digelar pada 13 - 15 Desember 2019 di Watu Tapak Camp Hill Tebing Breksi Prambanan Sleman berlangsung sukses dan semarak.

Kegiatan yang baru pertama kali digelar ini diikuti 344 pelajar Sekolah Menengah Atas / Sekolah Menengah Kejuruan SMA/SMK dari 30 kota se-Indonesia yakni Lampung, Gorontalo, Jakarta, Banten, Bekasi, Cirebon, Tegal, Brebes, Pekalongan, Kendal, Batang, Banyumas, Tasikmalaya, Cilacap, Purbalingga, Blora, Temanggung, Purworejo, Magelang, Klaten, Boyolali, Sragen, Ngawi, Wonogiri, Jember, Surabaya, Situbondo, Malang, Lumajang dan Pasuruan.

Selama tiga hari peserta digembleng dengan materi bermuatan nilai-nilai Pancasila dengan beragam metode edukasi menarik. KPPI terselenggara atas kerjasama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP dengan Komunitas Rejomulia didukung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Dikpora DIY.

KPPI dibuka Jumat (13/12/2019) siang oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X. Dalam kata sambutannya mewakili Gubernur DIY, pihaknya mengapresiasi gelaran kemah Pancasila pelajar Indonesia sebagai metode alternatif yang tepat untuk memperkuat persektif idiologis kalangan pelajar. "Semoga kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan pelibatan peserta yang lebih meluas," katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Minggu (15/12/2019).

Hadir pula Komandan Korem 072/Pamungkas Brigjen TNI Mohammad Zamroni dan Galuh Ibrahim mewakili Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

KPPI diisi dengan beragam kegiatan. Hari pertama hadir narasumber budayawan Achmad Charris Zubair. Ia menyampaikan materi tentang pembudayaan nilai Pancasila dalam praktek kehidupan sehari-hari. Menurutnya kalangan pelajar perlu terus bersikap kritis terhadap dinamika sosial masyarakat. Banyaknya postingan hoax dan ujaran kebencian terutama di sosial media serta fenomena kekerasan yang kerap melibatkn kalangan pelajar perlu disikapi dengan bijak.

Tampil pula Clara Sumarwati, pendaki perempuan pertama Indonesia yang berhasil menjejakkan kaki di gunung Everest. Clara berbagi pengalaman dalam dunia petualangan alam dan motivasi berprestasi. Sesi malam hari hadir narasumber kepala pusat studi Pancasila Ir. Lestanta Budiman. Acara hari pertama ditutup dengan tugas membuat papper pribadi dengan tema Pancasila dan bela negara.

Aktivitas pagi hari kedua Sabtu (14/12/2019) diawali olah raga selama satu jam. Suasana Watu Tapak Camp Hill di pagi hari sangat sejuk dan asri dalam balutan kabut. Sesi selanjutnya diisi materi diskusi kelompok soal kepemimpinan dengan fasilitator Widihasto Wasana Putra, Nico Langgeng dan Nana Je. Dilanjut sesi diskusi dengan narasumber dari BPIP yakni Irene Camelyn Sinaga, Toni Agung Arifianto, Tri Purno Utomo dan Suharno.

Peserta juga diajak melakukan aksi sosial bersih lingkungan di wilayah desa Sambirejo Prambanan, eksplorasi patung dan kaleng rombeng untuk membuat diorama dalam praktek berpancasila. Ada pula pertunjukan kesenian dari kelompok peserta seperti tari, musik, pencak silat, reog, puisi dan drama. 

Sementara pada hari terakhir Minggu (15/12/2019) ada materi pertemanan berkharakter dan pemimpin sebaya oleh narasumber psikolog Selvi Dewajani dan Dr. Wulan Saptandari. Dilanjut materi dari BPIP disampaikan Aris Utomo.

Tampil pula narasumber anggota dewan pengarah BPIP Benny Susatyo Pr., yang menyampaikan materi untuk mengarusutamakan nilai-nilai pancasila dalam ruang publik. Peserta dimotivasi untuk terus berkreasi dan berinovasi melalui beragam karya seperti film, meme, desain serta produk kreativitas lainnya guna menciptakan tata dunia baru yang berkeadilan sesuai nilai-nilai Pancasila.

Menurut Benny kalangan milineal yang berjumah 120 juta memiliki potensi luar biasa menggerakkan masyarakat lewat teknologi komunikasi. Sehingga diharapkan para pelajar dapat menjadi agen social of change menuju Indonesia yang lebih baik.

"Kalangan milineal harus terus diajak dan diperkuat kesadaran ideologisnya agar berperan aktif dalam memerangi ideologi kekerasan, hoaks, ujaran kebencian lewat postingan di sosial media yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," ujar Benny.

Seorang peserta Viki Yudianto siswa SMK Pancasila Paranggupito Wonogiri Jawa Tengah mengaku senang dapat berkesempatan mengikuti KPPI. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana membangun mental maupun karakter yg baik guna menunjang prestasi.