Dari Bukit Sosok, Tumpukan Sampah Piyungan Bak Gundukan Pasir yang Indah dalam Jepretan Kamera

Pengunjung berfoto di Bukit Sosok, Bantul, Selasa (31/12/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
02 Januari 2020 16:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Lebih dari 10.000 wisatawan memadati kawasan objek wisata Puncak Sosok pada malam pergantian Tahun 2020, kemarin. Objek wisata yang berlokasi di Dusun Jambon, Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, Bantul itu sejak dua tahun terakhir memang menjadi magnet wisatawan karena panoramanya yang menawan. Padahal sebelumnya kawasan wisata perbukitan tersebut adalah lahan gersang yang tidak menghasilkan bahkan tidak laku disewakan. 

Di pengujung 2019, sejumlah wisatawan asyik berburu foto di kawasan Puncak Sosok. Bahkan mereka acuh pada teriknya matahari. Salah satunya Peni Cempawati, wisatawan Asal Godean, Sleman. Ia mencoba dari satu spot foto ke spot foto lainnya.

Sesekali ia berteduh di dibawah gazebo, kemudian kembali berburu foto dengan kamera telepon selularnya. “Suasanyanya bagus, saya kebetulan baru pertama kali ke sini,” ucap Peni, di Puncak Sosok, Selasa (31/12/2019) lalu. Ia tidak sendirian, namun bersama keluarganya dan rencana menunggu sampai sore hari.

Sementara beberapa warga sekitar tengah menyiapkan panggung hiburan dan menata taman untuk perayaam malam tahun baru yang akan digelar beberapa jam kemudian. Panggung hiburan akustik tersebut rutin digelar setiap akhir pekan dan momen liburan mulai dari sore hingga malam hari.

“Objek wisata Puncak Sosok ini memang lebih ramai pada sore dan malam hari dengan panorama terbuka dari atas ketinggian, kalau siang tidak terlalu banyak,” kata Rudi Haryanto, selaku ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puncak Sosok. Objek wsiata tersebut memang berada di atas perbukitan dengan ketinggian 220 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Wisatawan bisa menikmati panorama terbuka Kota Jogja, Bantul, Sleman hingga Gunung Merapi dan Merbabu. Saat sore hari bisa menikmati matahari terbenam. Selain panorama terbuka, ada beberapa spot foto di antaranya dengan latar teras siring yang baru dibangun berkat bantuan Dinas Pariwisata DIY belum lama ini.

Ada juga spot foto dengan latar belakang yang tidak biasa, yakni tumpukan sampah. Namun tumpukan sampah dari Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan tersebut justru unik karena terlihat seperti gundukan pasir dan tanah karena posisinya yang cukup jauh, sekitar satu kilometer dan terlihat dari atas ketinggian.

Tidak hanya berburu spot foto, namun wisatawan juga dapat menikmati suasana santai sambil menikmati pertunjukan musik yang disediakan. Ada beberapa kursi dan meja yang di desain layaknya kafe terbuka. Deretan warung gubuk juga menambah suasana yang instagramable, sehingga membuat wisatawan betah berlama-lama.

Pengelola juga menyediakan empat gazebo, aula pertemuan, dan tempat ibadah, jalur sepeda, dan camping ground. Puncak Sosok baru resmi dibuka sejak Februari 2018. Objek wisata tersebut merupakan pengembangan dari Puncak Gebang yang berada sekitar 550 meter dari Puncak Sosok. Puncak Gebang berada di lahan pribadi dan kondisinya cukup sempit, berada di pinggir jalan dan tebing.

Untuk menuju Puncak Gebang dan Puncak Sosok, wisatawan perlu berhati-hati karena jalannya sempit hanya cukup satu kendaraan roda empat dan banyak tanjakan yang berkelok. Namun wisatawan tidak perlu khawatir berpapasan dengan kendaraan lain karena jalur masuk hanya satu arah dari Jalan Piyungan-Bawuran sejauh sekitar 1,5 kilometer. Sementara jalan keluar akan diarahkan menuju jalur Bawuran-Wonolelo.

Rudi mengatakan Puncak Sosok dan Puncak Gebang menjadi satu kawasan dengan pengelola yang sama. Semua yang terlibat dalam pengelolaan Puncak Sosok dan Puncak Gebang adalah warga. Ada sekitar 172 warga yang terlibat mulai dari pengelola wisata, pengelola parkir, pengelola 18 warung hingga petugas kebersihan.

Warga yang awalnya hanya bertani dan sebagian merantau kini beralih ikut mengelola objek wisata tersebut. Sebab, setiap harinya selalu ada pengunjung rata-rata 600 orang dan pada akhir pekan dan momen liburan tidak kurang dari 1.500 wisatawan berkunjung ke objek wisata tersebut. Bahkan pada momen pergantian tahun pengunjung mencapai 10 ribu orang lebih.

Tidak heran meski objek wisata ini terhitung baru, namun mendapat apresiasi dari banyak pihak. Setidaknya ada dua penghargaan untuk pengelola wisata Puncak Sosok ini, yakni sebagai Desa Wisata Maju dan masuk 10 besar nasional lomba Desa Wisata Nusantara dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Selain itu pengelola wisata tersebut juga menjadi salah satu pemuda pelopor Sumber Daya Manusia, Lingkungan dan Pariwisata 2019 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Lahan Gersang

Lurah Bawuran, Harmawan mengatakan lahan yang kini menjadi objek wisata Puncak Sosok itu merupakan lahan kas desa. Ada sekitar 2,5 hektare dari total lima hektare yang dikelola Pokdarwis. Ia mengakui lahan tersebut sebelumnya adalah lahan gersang yang tidak menghasilkan, hanya ditanami tanaman keras seperti jati dan sebagainya.

“Terkadang kalau musim hujan ditanami kacang-kacangan tapi hasilnya tidak seberapa karena tanahnya juga tidak banyak, cenderung bebatuan,” kata Harmawan. Lahan kas desa tersebut juga tidak ada pemasukan untuk desa karena tidak ada yang mau mengelola.

Kini setelah berubah menjadi objek wisata justeru menghasilkan. Namun hasilnya kembali diwujudkan dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana. Tahun lalu pihaknya sudah menggelontor dana desa sekitar Rp150 juta yang kemudian dibuat untuk membangun akses jalan yang sebelumnya tidak ada. Selain dari desa, Dinas Pariwisata DIY dan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPPKBPMD) Bantul, juga turut membangun fasilitas.

Direktur BUMDes Linuwih, yang menaungi Puncak Sosok, Humam Nahari menambahkan adanya Puncak Sosok, warga terutama anak muda yang sebelumnya berfikir untuk merantau akhirnya tidak jadi dan ikut mengelola wisata. Pihaknya terus berupaya mengembangkan objek wisata tersebut. rencananya tahun ini akan memperluas kawasan wisata dengan menambah sejumlah fasilitas di antaranya home stay, menambah area kuliner, dan arena permainan anak.