Alasan Siswa Sekolah Rakyat dari Gunungkidul Belajar di Sleman-Bantul
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Koordinator TRC BPBD Gunungkidul Surisdiyanto meninjau lokasi tanah ambles di Dusun Brongkol, Purwodadi, Tepus, Gunungkidul, Rabu (8/1/2020)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem di Gununkidul mengakibatkan tanah ambles sepanjang 16 meter dengan kedalaman sekitar tiga meter di Dusun Brongkol, Purwodadi, Tepus. Aktivitas warga terganggu karena material sempat menutupi badan jalan setinggi 20 sentimeter.
Lokasi tanah ambles berada di lahan milik Suyatno. Sekitar sepuluh meter dari lokasi rekahan pertama terdapat sebuah lubang yang saling berkaitan sehingga air yang berasal dari perbukitan mengikuti aliran tersebut. Sebagai dampaknya, material tanah dari lokasi ambles terbawa arus sehingga menimbun jalan hingga mencapai sekitar rumah warga yang di bawah.
Pemilik tanah, Suyatno mengatakan tanah ambles terjadi karena hujan yang mengguyur dengan intensitas tinggi sejak tahun baru. Pada Senin (6/1/2020) mulai muncul rekahan di lahan yang berada di belakang rumah. Ia menjelaskan, rekahan terus membesar hingga tanah di sekitar lokasi ambles sedalam tiga meter dengan panjang mencapai 16 meter. “Sempat muncul suara bergemuruh dan saat dilihat pohon kelapa dan sengon sudah dalam kondisi ambruk,” kata Suyatno kepada wartawan, Rabu (8/1/2020).
Dia menjelaskan saat musim hujan, lokasi tanah ambles sering menjadi aliran air dari perbukitan yang berada di belakang rumah. Akibatnya, rekahan semakin parah. “Terus tergerus dan longsoran mengikuti aliran air. Bahkan dampak dari amblesan material tanah sampai ke perkarangan di sekitar Dusun Kenis,” kata dia.
Kepala Desa Purwodadi, Sargiyanto mengatakan, dampak dari tanah ambles di lahan milik Suyatno juga menimbun badan jalan sedalam 70 centimeter sehingga aktivitas warga menjadi terganggu. “Posisi amblesan berada di atas dank arena aliran air maka dampaknya bisa dirasakan sampai ke bawah,” katanya.
Dia menuturkan, peristiwa ini sudah dilaporkan kepada BPBD Gunungkidul. Material tanah yang menutupi jalan juga sudah dikeruk pada Rabu pagi. “Warga bersama-sama dengan anggota TNI dan Polsek Tepus melakukan kerja bakti untuk mebersihkan material tanah yang menimbun bahu jalan,” katanya.
Camat Tepus Alsito mengatakan, tanah ambles yang dibarengi dengan longsoran ini berdampak 20 keluarga di sekitar lokasi. Meski demikian, kondisi masih belum membahayakan karena ancaman masih sebatas timbunan material tanah.
Dia pun berharap di sekitar lokasi dibuatk talut sehingga aliran air tidak lagi menimbulkan kerusakan. “Solusinya memang dibuatkan talut dan saluran sehiingga ada aliran khusus untuk menampung air dari kawasan perbukitan,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengaku sudah mendapatkan laporan terkait dengan laporan tanah ambles di Purwodadi, Tepus. Menurut dia, peristiwa ini terjadi karena dampak dari hujan yang turun. “Itu bukan rekahan tapi tanah ambles yang disusul longsoran karena gerusan dari air hujan” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
PAD wisata Bantul baru Rp8,4 miliar hingga Mei 2026, turun dari tahun lalu. Faktor ekonomi dan kunjungan jadi penyebab.
DPAD DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah di Rompok Ndeso, Kuwaru RT 02, Kalurahan Poncosari, Bantul.
Wali Kota Jogja Hasto dorong kampung wisata jadi ruang belajar. Turis asing diusulkan ikut mengajar anak-anak.
Jadwal KRL Solo–Jogja Jumat 22 Mei 2026 kembali normal. Cek jam keberangkatan lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.
Perbankan DIY tetap stabil Maret 2026. Aset dan DPK tumbuh, tapi kredit justru turun 1,48%.