Hapus Stigma Sebagai Tukang Demo, Tenaga Honorer di Bantul Berhasil Menulis Buku

Para pengurus Forum Komunikasi Tenaga Honorer SK Gubernur DIY Kabupaten Bantul saat beraudiensi ke Harian Jogja, Rabu (15/1/2020). - Harian Jogja/Nina Atmasari
15 Januari 2020 18:17 WIB Nina Atmasari Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Setelah bertahun-tahun mengupayakan perbaikan nasib dengan berdemonstrasi, Tenaga Honorer K2 di Bantul akhirnya melakukan upaya lain untuk menggugah hati para pemangku kebijakan. Mereka menulis buku tentang suka duka selama bekerja.

Buku berjudul Mengabdi Tanpa Batas, Kumpulan Sharing Suka Duka Pegawai Honorer K2 itu telah diluncurkan pada 21 Desember 2019. Isinya terdiri 20 tulisan dari para tenaga honorer eks K2 Bantul. Mereka yang menulis bukan hanya yang bekerja sebagai guru tetapi juga tenaga administrasi.

Ketua Forum Komunikasi Tenaga Honorer SK Gubernur DIY Kabupaten Bantul, Simon Sudarman mengungkapkan buku tersebut berisi rangkuman suka dan duka para tenaga honorer selama bekerja. Kebanyakan dari mereka telah bekerja selama lebih dari 20 tahun namun tidak mendapatkan apresiasi yang sesuai harapan.

"Kami tidak ingin mengeluh, tapi kami ingin memberi inspirasi dan motivasi pada para tenaga honorer yang ada agar mereka tetap semangat bekerja," katanya, saat beraudiensi ke Harian Jogja, Rabu (15/1/2020).

Satu hal yang mereka perjuangkan namun sampai saat ini belum terpenuhi adalah pengakuan terhadap masa kerja. Dengan pengakuan masa kerja, mereka akan mendapatkan penghargaan seperti kenaikan golongan yang berlanjut pada kenaikan penghasilan.

Namun, saat ini masa kerja mereka tidak diakui. Semua tenaga honorer dianggap nol masa kerja sehingga penghasilan mereka tak pernah naik. Dampak lain, tenaga honorer baru digaji sama dengan tenaga honorer lama.

Adapun, ketika melamar kerja sebagai tenaga honorer, instansi memperhitungkan pengalaman kerja. "Ini kan aneh, saat melamar kerja, pengalaman diperhitungkan, namun setelah bekerja, penghasilan tidak memperhitungkan masa kerja," jelas Sudarman.

Pengurus lain, Ary Yunanto menambahkan pembuatan buku ini sekaligus untuk membuang isu yang banyak beredar bahwa tenaga honorer adalah tukang demo. "Memang dulu kami sering demo, berkali-kali dari tingkat kabupaten hingga ke Pusat di Jakarta. Kami ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa menghasilkan karya. Kami melakukan upaya lain untuk menggugah hati para pemangku kepentingan," katanya.