30 Ha Lahan Cabai Diserang Patek

Seorang petani di Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, menunjukkan tanaman cabai miliknya yang mengering akibat serangan penyakit patek, Selasa (28/1/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
28 Januari 2020 19:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manunggal, Srigading, Sanden, Bantul, menyebut hampir semua tanaman cabai yang ada di wilayah pesisir selatan Bantul saat ini terserang penyakit patek atau Antraknosa. Para petani pun terpaksa mencabuti tanaman cabai dan membuangnya serta menggantinya dengan jenis tanaman lain.

Wakil Ketua Gapoktan Manunggal Gadingsari, Sunardi mengatakan penyakit patek yang menyerang tanaman cabai sebenarnya sudah terjadi sejak awal Januari lalu atau sejak musim hujan, namun akhir-akhir ini penyakit yang ditandai dengan bintik-bintik jamur di bagian buah cabai kemudian membusuk itu mulai meluas. “Penyakit patek sebenarnya bukan hanya menyerang tanaman cabai tapi semua tanaman. Kalau yang menyerang tanaman cabai ada sekitar 30 hektare [ha] di lahan pasir,” kata Sunardi, Selasa (28/1/2020).

Menurut Sunardi, tanaman cabai memang tidak cocok di musim hujan sehingga rawan terkena penyakit. Maka, tidak banyak petani yang menanam cabai dan sebagian besar sudah beralih ke tanaman padi. “Tanaman cabai yang ada saat ini merupakan tanaman sisa di musim kemarau atau tanaman Juli tahun lalu. Cabai yang ditanam juga cabai jenis keriting merah,” ucap dia.

Itulah sebabnya, meski puluhan hektare tanaman cabai saat ini terserang penyakit tidak terlalu merugi bagi petani, karena petani sudah memanen beberapa kali bahkan sempat merasakan harga mahal untuk beberapa kali panen.

Tanaman cabai yang ditaman mulai Juli itu sempat dipanen dengan harga Rp28.000 per kilogram. Harga tersebut merupakan harga tingkat petani. Harga cabai, kata dia, sempat anjlok hingga Rp9.000-Rp10.000 per kilogram, kemudian merangkak naik lagi sampai Rp38.000 per kilogram setelah banyak serangan patek.

Saat ini harga cabai keriting di tingkat petani dihargai Rp25.000-26.000 per kilogram. “Sebenarnya petani sudah untung banyak karena sudah 25 kali panenan. Yang terserang patek ini masih sekitar 7-8 kali panenan lagi,” kata Sunardi.