30 Hektare Cabai Lahan Pasir Bantul Terserang Patek, Ini Kata Pemkab Bantul

Seorang petani di Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, menunjukkan tanaman cabai miliknya yang mengering akibat serangan penyakit patek, Selasa (28/1/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
28 Januari 2020 23:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Nyaris semua tanaman cabai yang ada di wilayah pesisir selatan Bantul saat ini terserang penyakit patek atau Antraknosa. Para petani pun terpaksa mencabuti tanaman cabai dan membuangnya serta menggantinya dengan jenis tanaman lain.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul, Imawan Ekohandriyanto mengatakan saat ini umumnya petani memang tidak menanam cabai. Sebagian besar petani sudah menanam padi karena ketersediaan air cukup. Petani yang menanam cabai di musim hujan ini ia anggap di luar musim atau off-season.

“Biasanya cabai ditanam di musim kemarau April hingga September. Kalau ditanam di luar musim memang resikonya banyak, resiko diserang hama dan penyakit. Hama yang menyerang misalnya lalat buah dan kutu kebul berwarna putih,” kata Imawan, Selasa (28/1/2020).

Wakil Ketua Gapoktan Manunggal Gadingsari, Sunardi mengatakan penyakit patek yang menyerang tanaman cabai sebenarnya sudah terjadi sejak awal Januari lalu atau sejak musim hujan, namun akhir-akhir ini penyakit yang ditandai dengan bintik-bintik jamur di bagian buah cabai kemudian membusuk itu mulai meluas.

“Penyakit patek sebenarnya bukan hanya menyerang tanaman cabai tapi semua tanaman. Kalau yang menyerang tanaman cabai ada sekitar 30 hektare [ha] di lahan pasir,” kata Sunardi,