Demam setelah Pulang dari China, Seorang Mahasiswi Sempat Diisolasi di RSUD Bantul

RSUD Bantul-Harian Jogja - Ujang Hasanudin
06 Februari 2020 16:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati Bantul tengah memantau satu orang pasien yang baru pulang dari China. Pasien berinisial HS, 20, sempat diobservasi di ruang isolasi rumah sakit setempat selama dua hari.

Pasien tersebut kemudian dipulangkan karena dianggap hasil pemeriksaan masih normal, namun tetap dalam pemantauan rumah sakit dan Dinas Kesehatan selama dua pekan.

“Pemeriksaan thorax bagus tapi statusnya kalau sesuai panduan adalah Orang Dalam Pemantauan [ODP Suspek Corona] sampai dinyatakan bebas dua minggu atau 14 hari dari dia pulang [dari China],” kata Dokter Spesialis Paru RSUD Panembahan Senopati, Yuni Iswati Raharjani, dalam jumpa pers di aula rumah sakit tersebut, Kamis (6/2/2020).

Hadir dalam jumpa pers tersebut Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharjo; Kepala Seksi Surveilan dan Imunisasi Dinas Kesehatan Bantul, Abednego Dani; Kepala Bidang Pelayanan Medis Dinas Kesehatan Bantul, Agus Tri Widiyantara, dan Waisul Chorni Trenggono selaku dokter spesialis dalam.

Yuni mengatakan pemulangan pasien orang dengan pemantauan virus corona sesuai dengan panduan Kementerian Kesehatan. Pihaknya tetap melakukan pemantauan meski pasien tersebut sudah di rumah. “Prinsip kehati-hatian saja. Pasien dari China prosedur kalau ada keluhan segera diperiksa. Kalau hasil pemeriksaan normal kami anggap cukup pemantauan,” ujar dia.

Saat dibawa ke RSUD Panembahan Senopati Bantul, HS memang mengeluh demam, batuk, pilek, dan nyeri pada tenggorokan. Keluhan tersebut sebagaimana dialami pasien suspect virus corona. HS awalnya ditangani salah satu puskesmas di Bantul. Namun karena HS memiliki riwayat tinggal di China dan belum lama pulang sehingga langsung dirujuk ke RSUD Panembahan Senopati Bantul.

Dari riwayat HS tersebut rumah sakit mengambil tindakan sebagai bentuk kehati-hatian dari penyebaran wabah virus corona. Sementara ini Yuni menduga kemungkinan keluhan yang dialami HS karena kelelahan setelah perjalanan pulang dari China.

Kendati demikian pihaknya tetap memantau dan mengedukasi keluarga HS agar membatasi interaksi dengan warga lainnya selama masih dalam pemantauan, “Kalau terpaksa harus keluar, harus selalu memakai masker. Dan orang yang mau bertemu selama masa inkubasi [dua pekan] tetap harus memakai masker,” kata Yuni.

Kronologi Kepulangan

Kepala Sub Bagian Hukum dan Pemasaran dan Kemitraan RSUD Panembahan Senopati Bantul, Siti Rahayuningsih mengatakan pihaknya memantau HS sebagai bentuk kehati-hatian karena HS baru pulang dari China atau negara yang tengah dilanda wabah virus corona.

Siti mengatakan pasien tersebut merupakan mahasiswi asal Bantul yang tengah belajar di China, tepatnya di Provinsi Jiangsu. HS sudah sekitar 1,5 tahun tinggal di Jiangsu. Sejak merebaknya wabah corona, HS dipulangkan oleh Pemerintah China pada 1 Februari lalu.

HS pulang dari China melalui Thailand menggunakan kereta api dan tiba di Thailand pada 2 Februari. Dari Thailand HS terbang ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta. Setelah menginap di bandara selam sehari, HS terbang ke Jogja pada 3 Februari dan tiba di Jogja sekitar pukul 06.00 WIB.

Menurut Siti, selama di asrama mahasiswa di Jiangsu China, HS dikarantina tidak boleh keluar tanpa izin dan semua penghuni di sana tidak ada yang sakit. “Sebelum pulang ke Indonesia juga sudah dilakukan pemeriksaan oleh pemerintah China dan dinyatakan aman. Sampai di bandara Indonesia diperiksa ulang dan dinyatakan aman,” ujar Siti.

Pada Selasa (4/2/2020) pagi HS mengeluh demam, nyeri pada tenggorokan, batuk, pilek dan lapor ke Puskesmas terdekat. HS kemudian dirujuk ke RSUD Panembahan Senopati Bantul untuk diperiksa lebih lanjut di ruang isolasi. Setelah dilakukan pemeriksaan dan observasi beberapa kali, kondisi HS dari sisi fisik dan suhu normal. Demikian hasil pemeriksaan laboratorium juga diklaim normal.

dirujuk ke rsud panembahan untuk diperiksa lebih lanjut. Sampai di di ruang isolasi UGD. Hasil rongen paru dinyatakan kondisi paru masih normal. Di ruang isolasi dilakukan pemriksaan medis dan penundak untuk penegakan diagnsa. Kemudian diobservasi. Hasil pemeriksaan ulang februari kondisi baik tak ada keluahan, pemriksaan fisik normal, suhu normal, hasil lab juga dalam bats normal

“Dapat disimpulkan dari hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, dan radiologi tak ditemukan peneumonia [infeksi pada kantung udara paru-patu]. HS dinyatakan Orang Dalam Pemantauan. Sehingga diagnosisnya adalah Orang Dalam Pemantauan,” kata Siti.