UII Jogja Punya Tiga Profesor Baru

Rektor UII, Profesor Fathul Wahid (kanan) bersama dua orang rekannya yang baru saja meraih gelar profesor, di Kampus UII, Selasa (11/2/2020).-Harian Jogja - Rahmat Jiwandono
12 Februari 2020 02:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Universitas Islam Indonesia (UII) menambah tiga guru besar yakni Profesor Jaka Sriyana di bidang Ekonomi Pembangunan, Profesor Nur Feriyanto dalam bidang Ilmu Manajemen dan Profesor Fathul Wahid sebagai guru besar bidang Ilmu Sistem Informasi.

Serah terima surat keputusan kenaikan jabatan akademik profesor dilaksanakan di Gedung Prof Dr. Sardjito, Kampus UII Terpadu, Sleman, Selasa (11/1/2020).

Rektor UII Profesor Fathul Wahid mengungkapkan dengan bertambahnya tiga guru besar maka UII tercatat memiliki 20 profesor dari beragam rumpun bidang keilmuan. Jumlah ini bisa bertambah karena ada 191 dosen UII yang saat ini bergelar doktor dan 47 orang di antaranya punya jabatan fungsional Lektor Kepala.

"Kami masih mengajukan 26 dosen yang layak untuk mengikuti proses guru besar. tiga dosen telah diusulkan guru besar ke LL Dikti [Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi] Wilayah V DIY," kata Fathul seusai serah terima surat keputusan kenaikan jabatan, Selasa.

Untuk mempercepat penambahan jumlah profesor, pihaknya berkomitmen menerapkan program percepatan guru besar UII antara lain visiting professor, sabbatical leave (cuti riset) hibah penelitian kolaboratif dan coaching clinic. Khusus sabbatical leave, dosen akan menerima sejumlah fasilitas.

"Fasilitas yang diterima oleh dosen yang ikut program ini antara lain biaya hidup, visa, tiket pesawat, asuransi kesehatan dan subsidi dana penelitian," ujarnya.

Program lainnya yakni visiting professor, dilakukan dengan mengundang profesor kelas dunia dari perguruan tinggi ternama dari luar negeri untuk membimbing dosen dalam meningkatkan kehidupan akademis, kompetensi, kualitas dan kontribusi keilmuan.

Kepala Bagian (Kabag) Akademik Kemahasiswaan dan Sumber Daya, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah V DIY, Tunggul Priyono, mengatakan meski sudah mendapat gelar profesor dosen harus tetap meneliti, menulis dan bisa menjadi contoh bagi yang belum menjadi profesor. Terpenting adalah bisa menyuarakan ide atau gagasan di ranah publik.

"Sehingga kehadirannya [profesor] bisa mengkritisi, melengkapi dan mematangkan gagasan di lapangan," katanya.