Pemberdayaan Masyarakat dan Semangat Pembangunan Indonesia
Pemberdayaan masyarakat menjadi strategi penting transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045 melalui kolaborasi dan pendampingan berkelanjutan.
Penumpang tiba di LAX dari Shanghai, China, setelah adanya kasus positif coronavirus diumumkan di pinggiran Orange County, Los Angeles, California, AS, 26 Januari 2020./Reuters-Ringo Chiu
Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak lima mahasiswa asal DIY dan Jawa Tengah yang dievakuasi dari Wuhan, China, dan sempat menjalani observasi kesehatan selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau, tiba di Bandara Adisutjipto, Sabtu (15/2/2020). Mereka menggunakan Batik Air ID 7543 yang datang sekitar pukul 20.50 WIB.
Kelima mahasiswa yang belajar di Wuhan tersebut empat orang berjenis kelamin perempuan dan seorang lainnya laki-laki. Tiga di antaranya berstatus sebagai warga DIY dan dua lainnya warga Jawa Tengah. Kelimanya termasuk 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan.
"Keluarga sudah menyerahkan ke kami (Pemda DIY). Jadi ini proses pemulangan warga DIY dan Jawa Tengah dari Wuhan yang sudah diobservasi selama dua pekan di Natuna," kata Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaningastuti, usai menjemput kelima warga tersebut.
Selain Dinkes DIY, kelimanya juga disambut oleh perwakilan dari Dinkes Kota Jogja dan Sleman. Dinkes ingin memastikan kelima mahasiswa tersebut tiba di Adisucipto dengan selamat setelah bertolak dari Halim Perdanakusuma, Jakarta. "Kami menjemput mereka untuk memberikan kenyamanan dan keamanan. Sekali lagi kami bukan dalam rangka pemantauan, karena mereka warga yang sehat," tegas Pembayun.
Dia memastikan mereka keluar dari Wuhan tidak dalam keadaan sakit. Meski demikian, untuk memastikannya Pemerintah Pusat tetap mengobsevasi mereka selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau. "Observasi di Natuna untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka sehat. Mereka bukan warga yang terinfeksi virus Corona. Mereka warga yang sehat," katanya.
Keberadaan dua orang warga Jawa Tengah yang turun di Adisutjipto, kata Pembayun, merupakan hak keduanya untuk memilih lokasi pendaratan. Keduanya juga bisa pulang ke mana saja sesuai keinginan mereka. "Tidak masalah turun di sini, sebab mereka warga yang sehat," katanya.
Pembayun menegaskan, setibanya di Jogja Dinkes tidak akan mengobservasi mereka. "Di DIY tidak ada lagi observasi, kami tidak memerlukan observasi lagi. Mereka langsung pulang ke keluarga, mereka sehat. Mereka juga punya rekam medis," katanya.
Di Wuhan, kelimanya melanjutkan masa pendidikan. Pembayun belum bisa memastikan kapan mereka bisa kembali belajar ke Wuhan. "Mudah-mudahan mereka bisa kembali belajar di Wuhan jika keadaan di sana sudah aman," katanya.
Pembayun berharap agar masyarakat yang berada di dekat mereka tinggal tidak melakukan tindakan negatif seperti mengucilkan atau tindakan negatif lainnya. "Kami minta mereka jangan dikucilkan, tidak usah diekspose. Jangan disangsikan kesehatannya, mereka adalah warga yang sehat dan tidak bermasalah. Terimalah mereka seperti biasanya," kata Pembayun.
Meski begitu, seperti masyarakat lainnya jika kelima mahasiswa tersebut mengalami demam atau kalau membutuhkan pelayanan kesehatan lainnya, puskesmas siap untuk membantu. "Itu wajar, mereka datang dari perjalanan jauh. Dari Natuna hanya transit di Jakarta, tidak menginap di Jakarta, langsung ke Jogja. Bisa jadi kelelahan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemberdayaan masyarakat menjadi strategi penting transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045 melalui kolaborasi dan pendampingan berkelanjutan.
Kemenkes membangun rumah sakit lapangan di Ruteng untuk korban gempa. Fasilitas dilengkapi ruang operasi dan ditargetkan 100 tempat tidur.
Museum di Indonesia mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memperkaya pengalaman belajar sejarah. Kunjungan museum dan cagar budaya mencapai 4,32 juta pada
Kenali 8 jenis rangka motor sebelum membeli. Simak karakter setiap rangka dan tips merawatnya agar motor tetap stabil dan awet.
Big Bad Wolf Books kembali ke Jogja pada 3–13 September di JEC dengan jutaan buku dan target kenaikan pengunjung 5–7 persen.
Pemda DIY menyalurkan 40 kilogram obat-obatan melalui Tim FK-KMK UGM untuk korban bencana di Kabupaten Ngada, NTT.