Corona: Selepas Dikarantina, Mahasiswa DIY Langsung Berbaur

Penumpang tiba di LAX dari Shanghai, China, setelah adanya kasus positif coronavirus diumumkan di pinggiran Orange County, Los Angeles, California, AS, 26 Januari 2020. - Reuters/Ringo Chiu
16 Februari 2020 21:57 WIB Abdul Hamied Razak & Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak lima mahasiswa asal DIY dan Jawa Tengah yang dievakuasi dari Wuhan, China, dan sempat menjalani observasi kesehatan selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau, tiba di Bandara Adisutjipto, Sabtu (15/2/2020). Mereka menggunakan Batik Air ID 7543 yang datang sekitar pukul 20.50 WIB.

Kelima mahasiswa yang belajar di Wuhan tersebut empat orang berjenis kelamin perempuan dan seorang lainnya laki-laki. Tiga di antaranya berstatus sebagai warga DIY dan dua lainnya warga Jawa Tengah. Kelimanya termasuk 238 WNI yang dievakuasi dari Wuhan.

"Keluarga sudah menyerahkan ke kami (Pemda DIY). Jadi ini proses pemulangan warga DIY dan Jawa Tengah dari Wuhan yang sudah diobservasi selama dua pekan di Natuna," kata Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaningastuti, usai menjemput kelima warga tersebut.

Selain Dinkes DIY, kelimanya juga disambut oleh perwakilan dari Dinkes Kota Jogja dan Sleman. Dinkes ingin memastikan kelima mahasiswa tersebut tiba di Adisucipto dengan selamat setelah bertolak dari Halim Perdanakusuma, Jakarta.  "Kami menjemput mereka untuk memberikan kenyamanan dan keamanan. Sekali lagi kami bukan dalam rangka pemantauan, karena mereka warga yang sehat," tegas Pembayun.

Dia memastikan mereka keluar dari Wuhan tidak dalam keadaan sakit. Meski demikian, untuk memastikannya Pemerintah Pusat tetap mengobsevasi mereka selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau. "Observasi di Natuna untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka sehat. Mereka bukan warga yang terinfeksi virus Corona. Mereka warga yang sehat," katanya.

Keberadaan dua orang warga Jawa Tengah yang turun di Adisutjipto, kata Pembayun, merupakan hak keduanya untuk memilih lokasi pendaratan. Keduanya juga bisa pulang ke mana saja sesuai keinginan mereka. "Tidak masalah turun di sini, sebab mereka warga yang sehat," katanya.

Pembayun menegaskan, setibanya di Jogja Dinkes tidak akan mengobservasi mereka. "Di DIY tidak ada lagi observasi, kami tidak memerlukan observasi lagi. Mereka langsung pulang ke keluarga, mereka sehat. Mereka juga punya rekam medis," katanya.

Di Wuhan, kelimanya melanjutkan masa pendidikan. Pembayun belum bisa memastikan kapan mereka bisa kembali belajar ke Wuhan. "Mudah-mudahan mereka bisa kembali belajar di Wuhan jika keadaan di sana sudah aman," katanya.

Pembayun berharap agar masyarakat yang berada di dekat mereka tinggal tidak melakukan tindakan negatif seperti mengucilkan atau tindakan negatif lainnya. "Kami minta mereka jangan dikucilkan, tidak usah diekspose. Jangan disangsikan kesehatannya, mereka adalah warga yang sehat dan tidak bermasalah. Terimalah mereka seperti biasanya," kata Pembayun.

Meski begitu, seperti masyarakat lainnya jika kelima mahasiswa tersebut mengalami demam atau kalau membutuhkan pelayanan kesehatan lainnya, puskesmas siap untuk membantu. "Itu wajar, mereka datang dari perjalanan jauh. Dari Natuna hanya transit di Jakarta, tidak menginap di Jakarta, langsung ke Jogja. Bisa jadi kelelahan," katanya.