Harga BBM Naik, Bus Sekolah Gunungkidul Pangkas Layanan
Kenaikan BBM non subsidi bikin layanan bus sekolah Gunungkidul dipangkas. Dishub hanya operasikan layanan pagi hari.
Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul, Heri Purwanto (berbaju putih), berfoto bersama seusai kegiatan sosialisasi penanganan hipertensi di Kalurahan Bunder, Patuk, Senin (9/2/2026).
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Lonjakan kasus hipertensi Gunungkidul dalam lima tahun terakhir mendorong DPRD mendesak Pemkab memprioritaskan penanganan dan edukasi pola hidup sehat guna menekan risiko stroke hingga kematian, Senin (9/2/2026).
Data Dinas Kesehatan Gunungkidul menunjukkan pada 2025 tercatat 16.969 warga menderita hipertensi, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Angka ini mempertegas tren kenaikan yang perlu direspons dengan strategi pencegahan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul, Heri Purwanto, menyampaikan hal tersebut saat kegiatan sosialisasi penanganan hipertensi di Balai Kalurahan Bunder.
“Kehadiran kami di Bunder jadi bagian sosialisasi ke masyarakat tentang pencegahan bahaya penyakit darah tinggi atau hipertensi,” kata Heri, Senin siang.
Berdasarkan data yang diterima DPRD, pada 2021 terdapat 6.074 kasus hipertensi. Angka ini melonjak menjadi 10.155 kasus pada 2022.
Pada 2023 jumlahnya sempat turun menjadi 9.752 kasus, namun kembali naik pada 2024 hingga mencapai 11.456 penderita, sebelum akhirnya melonjak signifikan pada 2025.
“Kami berharap kepada dinas kesehatan agar terus menyosialisasikan dengan mengedukasi masyarakat agar kasus dapat ditangani dengan baik sehingga tidak terjadi fatalitas,” katanya.
Politikus NasDem itu menegaskan hipertensi bukan penyakit ringan. Tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat memicu stroke, komplikasi organ vital, hingga kematian.
“Pemkab harus fokus untuk penanganan. Kampanye pola hidup sehat di masyarakat harus terus digalakkan. Bagi penderita juga wajib diedukasi untuk berobat secara rutin,” katanya.
Terpisah, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Gunungkidul, Musiyanto, mengakui tren hipertensi Gunungkidul memang cenderung meningkat setiap tahun dan menjadi tantangan serius sektor kesehatan daerah.
“Makanya sosialisasi pencegahan dilakukan dengan mengampanyekan pola hidup yang sehat. Adapun bagi para penderita juga diwajibkan rutin minum obat,” kata Musiyanto.
Ia menjelaskan, hipertensi tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan dengan disiplin pengobatan dan perubahan gaya hidup. Pola konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, termasuk junk food, menjadi salah satu pemicu utama.
Selain faktor gaya hidup, unsur genetik atau keturunan juga berperan. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat hipertensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
“Memang ada faktor genetik karena hipertensi bisa diturunkan dari orang tua ke anak,” katanya. Upaya deteksi dini dan pemeriksaan rutin tekanan darah di fasilitas kesehatan pun dinilai penting untuk menekan peningkatan kasus hipertensi Gunungkidul ke depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kenaikan BBM non subsidi bikin layanan bus sekolah Gunungkidul dipangkas. Dishub hanya operasikan layanan pagi hari.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta kembali menggelar EduCareer Connect 2026 bertajuk “From Campus to Career: Connecting Education, Opportunities
Gempa Sukabumi Magnitudo 4,5 mengguncang Jawa Barat akibat aktivitas sesar aktif bawah laut, BMKG pastikan belum ada gempa susulan.
DPAD DIY mengakuisisi untuk mengelola arsip termasuk arsip pribadi, seniman, budayawan dan arsip-arsip yang menyimpan memori kolektif.
Identitas 11 bayi yang ditemukan di Pakem Sleman masih ditelusuri Pemkab Sleman untuk penerbitan dokumen resmi dan asal-usul bayi.
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia triwulan I 2026 melambat, dengan rasio ULN terhadap PDB turun menjadi 29,5 persen.