Advertisement
Kemantren Kraton Percepat Pengolahan Sampah Rumah
Foto ilustrasi bank sampah anorganik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pengelolaan sampah Kota Jogja 2026 memasuki babak baru setelah penutupan TPST Piyungan. Seluruh wilayah didorong memperkuat sistem pengelolaan sampah mandiri dari tingkat rumah tangga guna menekan volume sampah dan menjaga kualitas lingkungan.
Penutupan TPST Piyungan pada 2026 menjadi titik balik kebijakan persampahan di Kota Jogja. Pemerintah wilayah kini tidak lagi dapat mengandalkan pola lama berbasis tempat pembuangan akhir, melainkan harus membangun sistem yang bertumpu pada pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya.
Advertisement
Mantri Pamong Praja Kemantren Kraton, Sumargandi, menuturkan pengelolaan sampah tidak lagi dapat bertumpu pada tempat pembuangan akhir. Menurutnya, solusi harus dimulai dari tingkat rumah tangga melalui pemilahan dan pengolahan sampah dari sumbernya.
“Sejak penutupan TPST Piyungan, semua wilayah harus bergerak cepat. Pengelolaan sampah kini harus dimulai dari rumah,” katanya, Kamis (19/2/2026).
BACA JUGA
Ia menjelaskan edukasi terkait pemilahan dan pengelolaan sampah terus digencarkan kepada warga, termasuk kepada para pengelola bank sampah secara rutin. Warga didorong mampu mengolah sampah organik menjadi kompos secara mandiri, sementara sampah anorganik disalurkan melalui bank sampah untuk diproses lebih lanjut.
“Pengolahan sampah organik menjadi kompos menjadi langkah penting agar lingkungan tetap bersih, sehat, dan nyaman,” katanya.
Sumargandi mengungkapkan selama ini sampah organik, terutama sampah dapur, menjadi penyumbang terbesar volume sampah di Kota Jogja. Apabila tidak ditangani dengan baik, jenis sampah ini berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, pencemaran lingkungan, hingga gangguan kesehatan masyarakat.
“Karena itu, pendekatan [pengelolaan sampah] yang dilakukan tidak hanya berupa pengangkutan, tetapi juga edukasi pemilahan, penguatan peran bank sampah, pengolahan kompos, serta gerakan kebersihan lingkungan secara rutin,” katanya.
Ia menambahkan, sampah organik yang telah diolah menjadi pupuk kompos dapat dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman di pekarangan maupun ruang terbuka hijau di lingkungan permukiman.
Ke depan, ia berharap sistem pengelolaan sampah mandiri ini dapat berjalan berkelanjutan dan menjadi model bagi wilayah lain. Replikasi pola pengelolaan sampah dari rumah tangga tersebut diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap penurunan volume sampah di Kota Jogja, seiring dengan transformasi pengelolaan sampah Kota Jogja 2026 yang terus diperkuat di berbagai kemantren.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Kamis 19 Februari 2026
- Jadwal KA Bandara YIA Reguler dan Xpress, 19 Februari 2026
- Bus DAMRI Jogja-YIA, Cek Jadwal Lengkap 19 Februari 2026
- Bus Sinar Jaya Rute Jogja-Parangtritis dan Baron, 19 Februari 2026
- Jalur Trans Jogja ke Lokasi Wisata dan Terminal di Jogja, 19 Februari
Advertisement
Advertisement







