BNPB: Susur Sungai Saat Penghujan Berbahaya

Anggota TNI dan beberapa komunitas membersihkan Taman Legawong dan tepian Sungai Gajah Wong, di Gambiran, Kelurahan Pandeyan, Kecamatan Umbulharjo, Minggu (24/3/2019). - Harian Jogja/Uli Febriarni
22 Februari 2020 04:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN – BPBD Kabupaten Sleman menginformasikan perkembangan terkini bahwa enam murid meninggal dunia akibat insiden luapan dan arus deras Sungai Sempor yang terjadi pada Jumat sore (21/2/2020), sekitar pukul 15.30 WIB. Enam murid lain mengalami luka ringan, sedang 5 lainnya masih dalam pencarian.

Lebih dari 180 personel dari personel gabungan masih melakukan pencarian 5 murid yang masih harus dikonfirmasi keberadaannya. Personel gabungan menyusuri tepian sungai untuk mencari murid yang masih hilang meskipun dalam kondisi hujan gerimis. Sebanyak 239 murid yang selamat dari insiden telah terdata oleh pihak sekolah dan tim gabungan.

Berdasarkan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Suprianto menyebutkan insiden tersebut bermula saat 250 murid SMP Negeri 1 Turi melakukan kegiatan pramuka dengan menyusuri Sungai Sempor yang berada di Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Ketika melakukan penyusuran tersebut, arus air tiba-tiba deras dan volume air meningkat akibat kiriman dari hulu sungai.

Saat ini BPBD Kabupaten Sleman telah mendirikan pos komando di lokasi kejadian dan terus berkoordinasi dengan Basarnas, TNI, Polri, dinas terkait, sukarelawan dan warga setempat.

Berikut ini nama-nama murid yang menjadi korban dalam insiden penyusuran sungai:
1.Yasita bunga, Dadapan, Wonokerto
2. Vanesa Dida, Glagahombo, Wonokerto
3. Natasya Intan, Tritis Ngandong
4.zahra Imelda Kenteng
5. Nadine Fadila Khazanah
6. Evita putri Larasati

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo mengatakan insiden ini menjadi pembelajaran bersama sehingga insiden serupa dapat dihindari.

"Apabila akan melakukan kegiatan penyusuran sungai, ini harus dilakukan oleh orang dewasa dan terlatih. Anak-anak dan remaja dilarang untuk melakukan penyusuran sungai mengingat sangat berisiko tinggi," katanya.

Selain itu, sekolah yang akan melakukan susur sungai perlu juga memberitahu aparat pemerintah dan keamanan setempat. Di samping itu, aktivitas penyusuran dilakukan pada saat musim kemarau.

"Ketika ini dilakukan pada musim hujan, risiko air menjadi tinggi mengingat apabila hujan terjadi di sekitar hulu sungai akan berdampak pada arus dan volume air sungai hingga ke bagian hilir," katanya.