Terowongan Irigasi Bendung Tawang Ambles, Puluhan Hektare Sawah Terancam

Kondisi amblesnya terowongan irigasi Bendung Tawang di Dusun Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan, Sabtu (22/2/2020).-Istimewa - Dok. Pribadi
23 Februari 2020 05:37 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Amblesnya terowongan irigasi Bendung Tawang yang terletak di Dusun Sambiroto, Kalurahan Banyuroto, Kapanewon Nanggulan beberapa waktu lalu menyebabkan puluhan hektare sawah terancam tak dapat pasokan air.

Salah seorang warga setempat, Bambang Nurcahya, 46, menuturkan hujan lebat yang turun pada Kamis (20/2/2020) lalu pukul 15.00 WIB hingga malam pukul 22.30 WIB mengakibatkan bangunan terowongan irigasi di Bendung Tawang tertimpa longsoran tanah dan ambles. Hal ini membuat aliran irigasi terhenti hingga Sabtu (22/2/2020).

Dikatakannya, ada sekitar tiga meter lebih amblesan pada terowongan yang memiliki panjang total sekitar 150 meter tersebut. Derasnya hujan yang menimpa terowongan ini secara terus-menerus dan tidak dibendung menurut Bambang membuat bangunan ini ambles.

Padahal ada sejumlah persawahan di tiga kapanewon yang bergantung dari aliran irigasi Bendung Tawang, yaitu sawah di Kalurahan Banyuroto, Nanggulan; Sendangsari, Pengasih dan Kaliagung, Sentolo.

"Hari ini tadi ada dinas terkait meninjau, tapi kami harap sebenarnya bisa langsung ditangani karena dikhawatirkan pertanian terganggu. Paling tidak dibantu mengeruk tanahnya dulu lalu dibuat tanggul sementara dengan bambu dan terpal di kanan kiri dan dibronjong," kata Bambang kepada Harian Jogja, Sabtu.

Pengerukan sementara sangat diperlukan supaya air sedikit demi sedikit kembali mengalir. Namun ia merasa keberatan jika warga harus mengeruk secara swadaya. "Ini harus masuk dana tanggap darurat," kata dia.

Ia mengatakan info yang didapatkan oleh warga sebelumnya dinas terkait akan menangani kondisi tersebut. Namun hingga Sabtu belum ada penanganan teknis dan hanya peninjauan. Seperti yang disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Ariadi ketika dikonfirmasi melalui pesan teks, penanganan kerusakan terowongan itu ditunda.

"Ditunda, masih dikaji DPUPKP [Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman]," kata dia. Namun begitu, ia membenarkan jika kondisi ini termasuk dalam kejadian bencana lantaran disebabkan turunnya hujan lebat. Jawatannya saat ini mencari solusi terbaik untuk mengondisikan longsoran itu, apakah akan menggunakan manual atau alat berat supaya tidak memperparah kerusakan.

Kabid Sumber Daya Air DPUPKP Kulonprogo, Hadi Priyanto, menuturkan jawatannya masih mengecek untuk rencana penanganan terowongan yang masuk dalam sistem irigasi Kalibawang ini. Menurutnya, ada sekitar 60 hektare lahan persawahan yang terdampak.

"Kami sedang koordinasi dengan BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah]. Untuk irigasi sementara ini dari hujan masih bisa menolong," tuturnya.