Hujan Abu hingga Radius 10 Kilometer, Ini Penjelasan Lengkap BPPTKG soal Erupsi Merapi

Visual puncak Gunung Merapi dari pos Pengamatan Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Minggu (3/3) pagi. - Twitter/BPPTKG DIY
03 Maret 2020 17:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Berselang 19 hari setelah letusan 13 Februari 2020, hari ini 3 Maret 2020 pukul 05.22 WIB terjadi kembali letusan Gunung Merapi dengan tinggi kolom abu mencapai enam kilometer. Letusan terekam di seismograf dengan amplitudo 75 mm dan durasi 450 detik.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan jika awan panas teramati sejauh kurang daridua kilometer di wilayah selatan dan tenggara. VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) diterbitkan dengan kode warna Merah. Angin saat kejadian letusan mengarah ke utara dan timur.

"Hujan abu dilaporkan terjadi dalam radius 10 kilometer dari puncak terutama pada wilayah utara seperti di wilayah Kecamatan Musuk dan Cepogo Boyolali. Hujan abu bercampur pasir dilaporkan terjadi di wilayah Desa Mriyan, Boyolali yang berjarak sekitar tiga kilometer dari puncak gunung merapi," terangnya, Selasa.

Seperti pada letusan-letusan sebelumnya, lanjut Hanik, letusan pada Selasa (3/3/2020) ini tidak didahului prekursor yang jelas. Seismisitas pada 2 Maret 2020 terdiri dari gempa vulkanis dalam (VTA) satu kali, gempa fase nanyak (MP) sebanyak delapan kali, gempa frekuensi rendah (LF) dua kali, dan gempa hembusan (DG) sebanyak satu kali.

"Demikian juga deformasi juga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan tidak terbentuk tekanan yang cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanis," lanjut Hanik.

Rangkaian letusan sejak November 2019 hingga Selasa (3/3/2020) serta aktivitas kegempaan vulkanis menjadi indikasi bahwa saat ini Gunung Merapi berada pada fase intrusi magma menuju permukaan yang merupakan fase ketujuh dari kronologi aktivitas erupsi Gunung Merapi 2018-2020.

"Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung. Ancaman bahaya letusan ini berupa awan panas yang bersumber dari bongkahan material kubah lava dan lontaran material vulkanis dengan jangkauan kurang dari tiga kilometer. Berdasarkan volume kubah yang sebesar 396.000 meter kubik berdasarkan data dari drone pada 19 November 2019," tutupnya.