Tanggul Kali Serang Amblas, Warga Sekitar Swadaya Bangun Tanggul Pakai Karung

Sejumlah warga tengah membangun tanggul sementara di perbatasan Dusun Sanggrahan Lor dan Klopo Sepuluh, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates Minggu (8/3/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
08 Maret 2020 15:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Tanggul Sungai Serang sepanjang 30 meter dengan ketinggian mencapai lima meter yang terletak di perbatasan Dusun Sanggrahan Lor dan Klopo Sepuluh, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, amblas pada Jumat (6/3/2020).

Diduga peristiwa itu terjadi akibat tanggul tak kuat menahan derasnya arus Sungai Serang pasca hujan melanda Kulonprogo, sepanjang Rabu-Kamis (4-5/3/2020) lalu.

"Kejadiannya Jumat sekitar pulul 10.00 WIB, begitu air mulai surut, tanggul langsung amblas," ujar salah satu tokoh masyarakat Dusun Sanggrahan Kidul, Kasil Pujo Sutrisno, ditemui awak media, di lokasi amblasnya tanggul, Minggu (8/3/2020).

Di sisi lain, belum adanya bantuan dari pemerintah membuat warga di dua dusun tersebut berinisiatif membangun tanggul sementara menggunakan karung berisikan tanah.

Karung-karung tersebut ditata di sela-sela bambu yang sebelumnya sudah ditancapkan oleh warga di bekas amblasnya tanggul. Adapun pembangunan secara swadaya menggunakan kocek pribadi warga itu sudah berlangsung sejak Jumat sore, sampai Minggu.

Kasil, mengatakan pembangunan tanggul sementara itu untuk mencegah kerusakan yang kian parah. Dikhawatirkan hujan yang masih terus mengguyur wilayah Kulonprogo membuat aliran Sungai Serang kembali mengganas sehingga riskan mengakibatkan tanggul jebol.

"Kalau jebol kemungkinan bisa berdampak terhadap banjir yang mengegenangi sebagian besar wilayah Kalurahan Bendungan, bahkan mungkin tetangga kalurahan atau kapanewon sebelah," ujarnya.

Kasil mengatakan, warga sebelumnya telah mengusulkan pembangunan bronjong untuk melindungi tanggul. Usulan yang disampaikan dalam musyawarah tingkat kalurahan dan langsung kepada instansi terkait itu dilandasi karena sekitar tanggul tersebut rawan amblas. Selain lokasi yang amblas kemarin, peristiwa serupa sebelumnya pernah terjadi pada tahun lalu di titik yang tak jauh dari lokasi tersebut.

Di samping itu, perlunya bronjong karena lokasi amblasnya tanggul ini berada di saluran pembuangan sanitasi masyarakat (sanimas). Sanimas yang dibangun sejak 2013 itu membuang limbahnya ke Sungai Serang melalui pipa paralon yang menembus badan tanggul. Jika tidak ada pengamanan dari bronjong, dikhawatirkan tanggul sewaktu-waktu bisa jebol. "Tapi sampai hari ini belum ada realisasi," ujarnya.

Sementara itu Sukat, 52, salah satu warga Klopo Sepuluh, berharap, pihak-pihak terkait bisa merespon persoalan ini dan segera ada tindakan. Adapun untuk mengantisipasi jebolnya tanggul, pemerintah diharapkan bisa membangun bronjong di kawasan tersebut.