Bupati Sleman Siapkan Miliaran Rupiah untuk Membeli APD

Foto Ilustrasi. - Reuters
24 Maret 2020 13:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Krisis alat pelindung diri (APD) yang melanda rumah sakit di wilayah Sleman direspon dengan cepat oleh Pemkab Sleman. Pemkab menyiapkan milaran rupiah untuk memenuhi kebutuhan APD.

"Dalam waktu dua tiga hari, pekan ini, kami harapkan kebutuhan APD selesai didata. Akhir bulan APD datang. Ini anggaran kabupaten. Kami tidak ada bayangan untuk meminta bantuan ke Pusat karena pemerintah pusat sudah banyak yang harus dipikirkan," kata Bupati Sleman Sri Purnomo kepada Harianjogja.com, Senin (23/3/2020).

Sri menyadari, kebutuhan APD saat ini sangat mendesak khususnya bagi paramedis baik Puskesmas maupun Rumah Sakit di wilayah Sleman. Hal itu dilakukan agar mereka bisa lebih tenang selama bekerja dan tidak khawatir tertular virus Covid-19. "Ini langkah awal yang kami lakukan. Ini untuk meminimalisir penyebaran virus Covid-19 dari pasien," kata Sri.

Plt RSUD Sleman yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Djoko Hastaryo mengakui persediaan APD di rumah sakit mulai menipis. Padahal saat ini, terdapat 11 RS rujukan yang beroperasi di wilayah Sleman untuk merawat pasien positif Corona.

"Untuk ketersediaan APD semua RS menipis. Berbagai upaya telah dilakukan. Dinkes saat ini sedang menyelesaikan rekap kebutuhan APD semua RS 10 hari ke depan, sambil memesan ke produsen APD sejumlah 1.000 paket," kata Koordinator Bidang Kesehatan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sleman ini.

Masing-masing rumah sakit, lanjut Djoko terus berupaya memperoleh APD melalui channel masing-masing, termasuk ada yang melakukan open donation. "Masing-masing RS sudah membuat kebijakan sendiri untuk menjamin dokter dan tenaga kesehatan lainnya tetap dalam kondisi fit. Antara lain ada yang menyediakan ekstra fooding, menjadwal ulang ketugasan SDM, mengatur kunjungan pasien agar tidak menumpuk," katanya.

Disinggung soal anggaran pengadaan APD, Djoko menjelaskan karena status Sleman belum tanggap darurat, maka anggaran pengadaan bisanya dilakukan dengan menggeser-geser anggaran di Dinas Kesehatan dan beberapa OPD lainnya yang difasilitasi BKAD dan Bappeda.

"Dari DPA Dinkes sendiri bisa menggeser anggaran dari kegiatan lain untuk penanganan Covid-19 senilai Rp2.7 M. Untuk OPD lain saya belum ada data," katanya.

Sebelumnya, Direktur RSUD Prambanan Isa Dharmawidjaja mengakui jika saat ini pihaknya mengalami kekurangan APD. Kondisi yang sama juga terjadi di hampir semua RS di wilayah Sleman. Saking terbatasnya stok APD, RSUD Prambanan terpaksa meminjam beberapa APD ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.

"Kondisi APD kami sama dengan kondisi RS yang lainnya. APD kami sangat terbatas, saat ini kami sudah pinjam masker ke Dinkes sleman," kata Isa menjawab pertanyaan Harian Jogja.

RSUD Prambanan, lanjut Isa, tidak tinggal diam untuk memenuhi kebutuhan APD khususnya terkait dengan penanganan Covid-19. Pihaknya sudah beberapa kali menghubungi distributor dan mencari kelengkapan APD di pasaran. Sayangnya harga jual kelengkapan APD jauh di atas harga normal.

"Sambil kami terus berupaya mencari ke sana ke mari, membeli dengan harga yang mahal. Tapi stok kebutuhan APD kami di pasaran memang tidak ada," katanya.

Isa belum dapat memastikan kapan kebutuhan APD bisa tertangani. Pasalnya kekurangan APD lebih disebabkan karena stok di pasaran tidak ada lagi. "Jadi kami nggak bisa menjawab sampai kapan stok APD kami bertahan. Yang bisa kami lakukan adalah pengetatan APD dan memaksimalkan APD yang ada. Semoga ada jalan keluarnya," harap Isa.