Dusun-Dusun di Bantul Mulai "Lockdown"

Spanduk larangan berkunjung terpasang di muka jalan masuk Desa Wisata Tembi, Dusun Tembi, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, Minggu (29/3/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
29 Maret 2020 18:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sejumlah warga di Bantul ramai-ramai mulai memperketat pengawasan terhadap para pendatang maupun pemudik dari luar daerah yang masuk wilayah Bumi Projotamansari. Akses masuk dusun atau kampung di beberapa dusun juga mulai ditutup sementara.

Salah satunya adalah Kampung Wisata Tembi, Dusun Tembi, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon. Warga setempat memasang palang dan tulisan di sejumlah akses masuk. “Total ada lima akses masuk yang dibuka penuh hanya satu pintu di utara kampung,” kata Tatang Helmi Wibowo, salah satu tokoh masyarakat setempat, saat ditemui Minggu (29/3/2020).

Tatang mengatakan penutupan akses masuk kampung untuk mempermudah pemantauan pendatang atau warga luar kampung yang masuk Desa Wisata Tembi. Pengetatan itu dilakukan karena kian masifnya penyebaran wabah virus Corona di berbagai wilayah.

Pihaknya ingin menjaga agar warga di kampungnya tidak ikut tertular. Itulah sebabnya dia bersama pengurus RT sudah berkoordinasi, jika ada pendatang hendaknya melapor terlebih dahulu ke desa dan puskesmas. Selain membatasi pendatang, penutupan akses masuk juga sebagai bagian dari upaya agar warga setempat tidak tidak bebas keluar masuk kampung di tengah wabah Corona.

Upaya lain untuk mencegah penularan juga dilakukan dengan memperbanyak tempat mencuci tangan, penyemprotan area kampung dan rumah-rumah, serta pengadaan hand sanitizer. “Sarana dan prasarana ini semua swadaya masyarakat,” kata Tatang.

Bahkan jika wabah Corona tak kunjung mereda, pihaknya juga sudah bersiap membuat lumbung pangan bagi warga Tembi.

Hal yang sama juga di Pasar Gabusan. Tercatat ada 60 keluarga atau sekitar 200 jiwa yang tinggal di area pasar tersebut kini sudah mengisolasi diri. Mereka hanya memberlakukan satu akses masuk dari total tiga pintu yang ada. “Ini sebagai bentuk antisipasi dari paparan Covid-19,” kata Muhammad Aris Faturrahman, penanggung jawab soal pengurangan risiko Covid-19 Pasar Gabusan.

Selain membatasi dari warga luar, secara swadaya warga juga iuran untuk penyediaan cairan disinfektan, tempat cuci tangan. Bahkan sebagain warga yang terdampak langsung atau tidak bisa bekerja karena situasi wabah ini juga menyiapkan paket sembako yang merupakan iruan warga yang mampu.

Ada 20 KK yang perlu mendapatkan bantuan karena usahanya tidak jalan akibat sepi pembeli. “Kami sudah hitung kebutuhan selama sebulan khusus untuk yang terdampak langsung secara ekonomi berupa beras 600 kilogram dengan asumsi satu kilogram satu hari satu kepala keluarga plus empat bungkus mie instan,” ujar Aris.

Kondisi serupa juga terjadi di Dusun Jogonalan Lor, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan. Dari banyak akses masuk hanya dua pintu masuk yang dibuka. Pada jalan yang ditutyp tersebut warga juga memasang spanduk besar bertuliskan Pengumuman: Sopo bae sing bali seko tanah perantauan baik kui Sumatera, Kalimantan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jogja, Solo, atau daerah lain ngendi bae, terutama daerah sing terdampak virus Corona ataupun gus lewat daerah e thok wajib lapor ke pihak desa, kades, perangkat desa, atau tokoh masyarakat yang bisa menyampaikan ke pihak desa. Demi kebaikan bersama lurr, demi kesehatan dan keamanan keluarga. Ning omah wae.

Ketua RT01 Jognalan Lor, Waljianto pembatasan akses masuk kampung sudah dilakukan sejak Sabtu malam pekan lalu sebagai bentuk antisipasi penyebaran virus Corona. Dia berharap upaya itu dimaklumi oleh para pendatang maupun perantau yang akan pulang ke Jogonalan Lor.