Wilayah Perkotaan di DIY Lebih Rentan Penyebaran Corona, Ini Datanya

Tangkapan layar peta Sebaran Kasus Covid di DIY versi Pemda DIY. (corona.jogjaprov.go.id)
08 April 2020 22:17 WIB Bhekti Suryani & Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Wilayah perkotaan di sejumlah kabupaten di DIY tercatat paling banyak ditemukan orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP).

Kecamatan yang merupakan wilayah perkotaan atau dekat dengan pusat Kota dinilai lebih rawan terhadap penyebaran virus Corona. Merujuk data sebaran ODP, PDP maupun pasien positif Covid-19 yang dilansir laman resmi penanganan Covid-19 Pemda DIY https://corona.jogjaprov.go.id/ yang dilansir, Rabu (8/4/2020), beberapa contoh seperti Kecamatan Banguntapan, Kasihan, dan Sewon (Bantul) ditemukan ODP, PDP maupun pasien positif Covid-19 yang lebih tinggi dibanding kecamatan lainnya.

Di Banguntapan misalnya ODP tercatat paling banyak di Bantul yakni 101 orang dengan jumlah PDP 16 orang. Demikian pula Sewon yang berbatasan langsung dengan Kota Jogja ditemukan ODP sebanyak 61 orang dan delapan PDP. Sedangkan Kasihan yang juga merupakan wilayah penyangga perkotaan ditemukan 24 ODP dan PDP sebanyak 12 orang.

Kondisi serupa juga ditemukan di Sleman. Kecamatan Depok yang merupakan wilayah dengan mobilitas tinggi menempati urutan teratas jumlah ODP yakni 182 orang dengan 15 PDP.

Demikian pula Kecamatan Sleman dengan jumlah ODP 182 orang. Di Kulonprogo, Kecamatan Wates yang merupakan pusat kota ditemukan paling banyak ODP yakni 67 orang, disusul Temon 48 orang. Kecamatan Temon diketahui kini mulai bergeser menjadi pusat keramaian baru menyusul adanya Yogyakarta International Airport (YIA).

Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Ova Emilia mengamini kondisi di atas.

"Yang positif itu kan yang punya mobilitas tinggi. Makanya edukasinya kan stay at home atau kurangi mobilitas," tegas Ova, Rabu (8/4/2020).

Menurutnya, di daerah yang terpencil dan mobilitas warganya kurang, akan lebih kecil kemungkinan warga yang terkena virus. "Jadi memang tempat yang banyak lalu lalang dan jadi tempat persinggahan," kata dia.