Covid-19 di DIY Lebih Banyak Menyerang Laki-Laki daripada Perempuan, Ini Faktanya

Paru-paru. - Reuters
08 April 2020 22:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kasus positif Covid-19 di DIY hingga Rabu (8/4/2020)telah mencapai 38 orang.

Jumlah itu tersebar di seluru kabupaten/kota di DIY. Paling banyak ditemukan di Sleman yakni 19 kasus.

Merujuk laman resmi penanganan covid-19 DIY, https://corona.jogjaprov.go.id/, Rabu (8/4/2020), dari total 38 kasus tersebut, sebanyak tujuh orang sembuh, enam meninggal dunia dan 25 orang kini dirawat di sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19.

Harianjogja.com mendata satu per satu 38 pasien yang positif terinfeksi virus Corona.

Hasilnya, mayoritas pasien yang terinfeksi Covid-19 yakni laki-laki sebanyak 31 orang. Sedangkan perempuan hanya tujuh orang.

Data tersebut mengonfirmasi berbagai penelitian yang menyebut laki-laki lebih rentan terinfeksi virus Corona.

Dilansir dari Bisnis.com-jaringan Harianjogja.com, selain kondisi kesehatan yang secara umum buruk dan kebiasaan seperti merokok dan minum minuman keras, yang dapat merusak paru-paru, di kalangan pria, sejumlah pakar terkemuka mengatakan kepada Xinhua bahwa pengaruh hormon terhadap respons kekebalan tubuh kemungkinan juga memainkan peran penting dalam fenomena ini.

Ketika berbicara dalam taklimat harian yang digelar di Gedung Putih, Dr. Deborah Birx, Direktur Gugus Tugas COVID-19 Gedung Putih, mengatakan sebuah laporan dari Italia menunjukkan bahwa tingkat kematian pria dari hampir seluruh kelompok usia lebih tinggi dibandingkan wanita. Dia menyebut fenomena itu sebagai "tren yang meresahkan."

Menurut otoritas kesehatan Italia, pria menguasai 58 persen dari seluruh 13.882 kasus COVID-19 di negara tersebut antara 21 Februari hingga 12 Maret, serta 72 persen dari 803 kematian yang dilaporkan.

Sebuah laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China mengindikasikan bahwa tingkat mortalitas di kalangan pria yang dikonfirmasi terinfeksi COVID-19 sekitar 65 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian di kalangan wanita.

Berbagai kebiasaan tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, lebih sering dilakukan oleh pria dibandingkan wanita. Kebiasaan-kebiasaan itu dapat merusak paru-paru dan mengakibatkan peradangan ketika melawan infeksi, kata sejumlah pakar.

Pria cenderung memiliki lebih banyak penyakit terselubung, seperti hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru kronis, menurut Global Health 50/50, sebuah institut penelitian yang mempelajari ketidaksetaraan gender di bidang kesehatan global.

"Meski sejumlah faktor lain yang dapat memicu infeksi parah, seperti riwayat merokok dan penyakit jantung, juga berbeda pada pria dan wanita, sistem imun diketahui berfungsi dengan cara yang berbeda pada tubuh keduanya (pria dan wanita)," papar Susan Kovats, ahli imunologi dan mikrobiologi dari Yayasan Penelitian Medis Oklahoma (Oklahoma Medical Research Foundation).

Perbedaan terkait gender dalam tingkat kemunculan dan keparahan infeksi virus pernapasan terlihat jelas pada manusia dan model tikus, serta sejalan dengan perbedaan dalam hal aktivitas sel imun, imbuhnya.

Sel-sel imun mampu merespons hormon estrogen dan testosteron, yang mengindikasikan bahwa perbedaan kadar hormon-hormon ini pada pria dan wanita mungkin saja berperan dalam respons imun mereka yang berbeda, papar Kovats.

Ketika merespons beberapa virus, jika dibandingkan dengan sel-sel pria, sel-sel pada tubuh wanita memproduksi protein yang disebut "interferon" dengan level lebih tinggi. Interferon merupakan bagian penting dari respons imun bawaan awal. Protein tersebut memicu aliran protein yang secara langsung bersifat antivirus dan bertindak untuk meredakan penyebaran virus, menurut Kovats.

"Bukti memang menunjukkan bahwa produksi interferon didukung oleh estrogen. Dalam infeksi virus pernapasan, kapasitas yang lebih besar untuk memproduksi interferon dapat membantu meredakan penyebaran virus dan kerusakan paru-paru pada wanita," tuturnya.

Dr. Stanley Perlman, profesor mikrobiologi dan imunologi dari Universitas Iowa, mempelajari sejumlah tikus jantan dan betina yang terinfeksi beberapa jenis coronavirus, yaitu coronavirus pemicu sindrom pernapasan akut berat (severe acute respiratory syndrome/SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (Middle East respiratory syndrome/MERS).

Dia menemukan bahwa tikus-tikus jantan lebih rentan terinfeksi dibandingkan tikus betina di segala usia.

"Eksperimen-eksperimen yang kami lakukan pada tikus mengindikasikan bahwa hal ini sebagian bersifat hormonal. Jika kita menghilangkan estrogen dari tikus-tikus itu, mereka (tikus betina) akan sama sensitifnya terhadap SARS-CoV dengan tikus jantan," kata Perlman.

Respons imun antara pria dan wanita kemungkinan berkaitan dengan hormon, tetapi masih belum dipahami dengan baik, kata Kent Pinkerton, profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas California Davis.

Jika para ilmuwan berhasil mengungkap cara kerjanya, mereka dapat mengidentifikasi strategi yang lebih baik untuk melawan infeksi corona secara umum, tutur para pakar.