UMKM Kulonprogo Ubah Haluan Produksi Baju Hazmat

UMKM Kertabumi Batik menunjukkan contoh baju hazmat buatan mereka kepada Bupati Kulonprogo pada Rabu (8/4/2020) di Kantor Bupati Kulonprogo. Sampai saat ini UMKM Kertabumi Batik mampu memproduksi 300 baju hazmat setiap pekan. Sebanyak 300 baju hazmat telah jadi dihibahkan ke RSUD Wates dan RS Paramedika. - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
09 April 2020 08:07 WIB Catur Dwi Janati Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - UMKM Kertabumi Batik mulai memproduksi baju hazmat dan berencana mendistribusikan ke seluruh puskesmas di Kulonprogo. Perusahaan konveksi ini memilih ubah haluan memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) untuk Kulonprogo.

Pemilik UMKM Kertabumi Batik, Rifki Ali Hamidi mengatakan perusahaannya mampu memproduksi 300 baju hazmat per mimggunya. Menggunakan dana donasi yang terkumpul dari donatur sebanyak Rp45 Juta, Rifki bersama pegawainya lantas menyiapkan berbagai bahan untuk membuat baju Hazmat.

"Khusus pembuatan baju hazmat, pegawai saya enggan menerima bayaran, mereka membuat APD secara sukarela," ujarnya, belum lama ini.

Salah satu kendala yang ditemui Rifki dalam pembuatan bahan adalah bahan baku sesuai standar yang sudah mulai sulit didapat. Untuk mendapatkan barang, Rifki harus berebut dengan pedagang atau perusahaan lainnya.

Tidak hanya baju hazmat, UMKM Kertabumi Batik juga memproduksi gaun medis dan face shield hingga sepatu boots. Saat ini UMKM Kertabumi Batik telah mendistribusikan sebanyak 300 baju hazmat, 200 gaun medis, 400 Face Shield, dan 30 sepatu boots ke RSUD Wates dan RS Paramedika.

Rifki mengatakan pihaknya akan melanjutkan pemberian APD ke rumah sakit lainnya. Hingga saat ini juga telah ada beberapa puskesmas yang menghubungi UMKM Kertabumi Batik untuk meminta bantuan APD. "Rencananya kalau bisa kami ingin mendistribusikan APD ke seluruh Puskesmas di Kulonprogo," ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo, Sri Budiati bersyukur atas bantuan yang diberikan. Menurutnya bantuan ini menunjukkan bahwa banyak pihak yang peduli dengan tenaga medis. APD hasil produksi UMKM ini menunjukkan masyarakat semakin mandiri dan tidak tergantung dari pabrikan yang selama ini memproduksi.

Budi mengkhawatirkan ke depannya masalah yang ditemui adalah ketersediaan bahan pembuatan baju hazmat. Selama ini perusahaan yang hendak memproduksi baju hazmat terkendala di bahan baku. "Mudah-mudahan ke depannya ada solusi," ucapnya.

Terkait standar bentuk dan bahan yang digunakan dalam pembuatan baju hazmat, Budi mengatakan pihak UMKM berkoordinasi dengan Dinkes Kulonprogo.