TPST Piyungan Dibuka, Pengusaha Truk Sampah Ekstra Kerja Keras

Antrean truk pengangkut sampah di TPST Piyungan, Bantul, Rabu (8/4 - 2020).Harian Jogja/Hery Setiawan
13 April 2020 13:37 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pasca-penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan oleh warga sekitar beberapa hari lalu, pengusaha angkutan sampah harus ekstra kerja keras dalam mengangkut sampah yang sempat menumpuk.

Sekretaris Pengusaha Angkutan Sampah Eker-eker Golek Menir, Sapta Wijaya mengatakan sejauh dia telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul terkait dengan telah dibukanya kembali TPST Piyungan, Senin (13/4/2020). Selain harus mencari surat rekomendasi dari BLH, pihaknya kini juga harus bekerja ekstra keras untuk mengangkut tumpukan sampah di beberapa titik.

Di Banguntapan yang menjadi lokasi sekitar 500 pelanggannya, dia mengaku harus segera mengangkuti setidaknya lebih dari 12 ton sampah. “Dengan adanya penutupan TPST Piyungan, saat ini ada total 12 ton sampah yang harus saya angkut. Saya harus bekerja ekstra keras, dan setidaknya membutuhkan tiga hari untuk mengangkut semuanya,” kata Sapta, Senin.

Menurut Sapta, sejatinya pengangkutan sampah bisa dipercepat menjadi dua hari. Akan tetapi, kendala keterbatasan armada dan juga pekerja membuat dirinya hanya bisa mengangkut empat ton sampah per harinya.

Terlebih pembatasan truk sampah segera diberlakukan oleh Pemda DIY. Seperti diketahui, truk pengangkut sampah yang diperbolehkan membuang muatan sampahnya ke TPST Piyungan hanyalah truk yang memiliki dump serta mengantongi rekomendasi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY.

Dalam sehari saya angkut dua kali. Saya sempat coba cari tambahan pekerja dari luar tetapi enggak dapat. Keinginan awal semua selesai dalam dua hari, karena kondisi seperti ini ya, baru tiga hari selesai,” kata Sapta. “Lagipula sudah konsekuensinya, karena pelanggan juga sudah membayar iuran sampah setiap bulannya. Mau tidak mau kami harus bekerja ekstra keras."