Banyak Warga Tak Paham, Kartu Prakerja di Kota Jogja Sepi Peminat

Foto ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Rahmatullah
14 April 2020 17:57 WIB ST18 Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Program Kartu Prakerja di Kota Jogja masih sepi peminat. Hal tersebut terjadi lantaran masyarakat masih bingung tentang tata cara pendaftaran. Ditambah lagi, tidak semua masyarakat memiliki e-mail yang menjadi syarat utama ketika hendak mendaftar.

Sekretaris Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Transmigrasi Kota Jogja, Riyanto mengatakan sejauh ini baru sekitar 40 orang saja yang mendaftar program Kartu Prakerja. Angka tersebut jelas masih jauh dari perkiraan jumlah warga yang terdampak ekonominya karena pandemi Covid-19. Mulai dari kalangan buruh, pedagang kecil hingga menengah, hingga pekerja harian lepas.

Dari kalangan buruh sendiri, Riyanto mengatakan ada sekitar 5.000 orang yang terdampak, baik yang dirumahkan dan mendapat PHK. Jumlah itu baru terhimpun dari 149 perusahaan saja. Sementara perusahaan di Jogja sendiri jumlahnya mencapai ribuan. Belum lagi jika ditambah dengan jumlah warga terdampak dari sektor perdagangan dan pariwisata. Tentu saja, jumlah pendaftar Kartu Prakerja masih jauh dari harapan.

Menurut Riyanto, hal tersebut terjadi lantaran masyarakat masih bingung terkait informasi pendaftaran. Lalu, penyebab yang kedua adalah belum banyak masyarakat yang punya e-mail atau akun surat elektronik. E-mail itu nantinya digunakan untuk melakukan registrasi di bilik pendaftaran yang sudah disediakan.

“Kalau belum punya nanti kami ajarkan saat pendaftaran,” katanya kepada Harianjogja.com, Selasa (14/4/2020).

Setelah mendaftar peserta akan melakukan tes kompetensi untuk melihat kecocokan minat pelatihan. Riyanto menjamin semua peserta bisa lulus tes, sebab katanya yang terpenting memenuhi syarat administrasi. Setelah melalui tes, peserta baru mendapat Kartu Prakerja yang nantinya bisa digunakan untuk mengikuti pelatihan.

Rencananya, pelatihan akan diselenggarakan setelah pandemi berakhir. Kapan waktunya, tentu saja belum bisa ditentukan. Untuk sementara, ia baru bisa menjamin bahwa pelatihan akan dilaksanakan secara online. Teknis rincinya seperti apa, ia sendiri belum bisa mengatakan. Masih ada keraguan dan ketidakjelasan terkait rencana tersebut.

“Saya sendiri masih ragu. Soalnya belum jelas mau seperti apa,” katanya.