Tes Covid-19 Adalah Kunci, Pakar UGM Minta Pemerintah DIY Tingkatkan Pengetesan 10 Kali Lipat

Petugas laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta tengah membongkar, memeriksa dan mendata sampel swab Covid-19 yang dikirim oleh berbagai rumah sakit di DIY-Jateng, Senin (13/4/2020), di laboratorium BBTKLPP di Jalan Imogiri Timur, Banguntapan, Bantul.-Harian Jogja - Bhekti Suryani.
16 April 2020 20:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kapasitas pemerintah DIY untuk melakukan tes Covid-19 baik Rapid Diagnostic Test (RDT) maupun metode PCR dinilai masih minim.

Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM Riris Andono Ahmad, kapasitas diagnosa menjadi kunci dalam menangani covid-19 di wilayah ini yang jumlahnya kekinian sudah mencapai lebih dari 40 kasus.

Kapasitas tes yang dimaksud antara lain Rapid Diagnostic Test (RDT), reagen dan primer untuk pengujian sampel swab PCR pasien terduga Covid-19 serta jumlah laboratorium yang melakukan pemeriksaan. Bahkan di awal kasus, proses pemeriksaan masih terpusat di Kementerian Kesehatan.

 Bila menengok kapasitas diagnosa yang dimiliki DIY, pemerintah menyebut kini ada tiga lab untuk tes PCR di DIY, yakni Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta, serta dua lab di RSUP Dr Sardjito dan RSA UGM.

Namun, pemeriksaan di BBTKLPP Yogyakarta pun harus berbagi dengan Jawa Tengah. Sedangkan RDT untuk screening awal Covid-19, DIY hanya mendapat alokasi sekitar 20.400 RDT dari Pusat. Artinya hanya 10.000 lebih warga DIY yang bakal tersentuh tes cepat tersebut, karena satu orang butuh dua RDT. Bandingkan dengan tiga juta lebih penduduk DIY saat ini. Menurut Doni, jumlah itu jauh dari cukup.

 “Kapasitasnya [tes untuk diagnosa] harus ditingkatkan sepuluh kali lipat dari sekarang,” tegas dia, Selasa (14/4/2020).

Tes yang masif menurut Doni adalah kunci. Sebab akan terkait dengan respons selanjutnya pada pasien Covid-19, selain kapasitas layanan kesehatan yang memadai seperti rumah sakit rujukan, ketersediaan ruang isolasi dan ventilator untuk pasien dengan gangguan pernapasan.

Semakin cepat ditemukan pasien terinfeksi, akan semakin cepat penanganan yang dilakukan.