Jadwal Terbaru KRL Solo-Jogja 28 Mei 2026, Tarif Rp8.000 Sekali Jalan
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Kamis 28 Mei 2026 lengkap semua stasiun, tarif Rp8.000 dan jadwal keberangkatan pagi hingga malam.
Foto ilustrasi. /Reuters
Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY akhirnya mengakui adanya transmisi lokal atau penularan lokal dari generasi kedua hingga ketiga dalam penyebaran Covid-19.
Pengakuan Pemda DIY terkait adanya penularan lokal itu disampaikan oleh Ahli Epidemiologi UGM Riris Andono Ahmad dan Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY Biwara Yuswantana di BPBD DIY, Rabu (22/4/2020) petang.
Dari 713 kasus yang terkonfirmasi per Rabu (22/4/2020), telah dilakukan penyelidikan epidemiologi dan kontak tracing terhadap 71 kasus. Hasilnya ada 51 kasus memiliki riwayat kasus paparan dari luar DIY terutama dari wilayah zona merah. Sebanyak 51 kasus ini dicatat sebagai generasi pertama.
Kemudian dari kontak tracing telah ditemukan 12 kasus yang tertular dan disebut sebagai generasi kedua. 12 kasus generasi kedua ini menularkan kepada tiga kasus yang dicatat sebagai generasi ketiga. Di luar itu ada lima kasus di DIY yang misterius dan tidak bisa terlacak riwayat penularannya.
Riris Andono Ahmad mengatakan transmisi lokal untuk generasi kedua ada di semua kabupaten dan kota di DIY. Sedangkan generasi ketiga pihaknya belum bisa menyampaikan karena harus menuduh suatu wilayah tertentu. “Saya tidak berani mengatakan [kabupaten/kota mana yang sudah ada penularan generasi ketiga],” katanya.
Sedangkan untuk lima kasus yang tidak terlacak riwayat itu disebabkan karena tertular oleh orang yang positif namun masih berkeliaran. Bahkan seperti ibu rumah tangga dan pensiunan yang mobilitasnya rendah bisa berpotensi tertular dari pihak yang dia sendiri tidak tahu bahwa orang itu sebagai pembawa virus. “Ini menjadi indikasi adanya penularan cukup meluas tetapi kita tidak tahu ada di mana,” ucapnya.
“Sebuah kasus itu bisa berpotensi menularkan dua atau tiga maka jika semakin banyak kasus di DIY akan semakin banyak tertular itu disebut penularan lokal yang meluas. Kalau penularan lokal meluas akan sulit memotong rantai transmisinya, hanya bisa mengurangi tetapi tidak sampai menghentikan penularan,” katanya lagi.
Meski demikian pria yang akrab disapa Doni belum dapat memastikan butuh waktu berapa lama untuk bisa dikategorikan penularan lokal meluas dengan adanya tiga kasus generasi ketiga di DIY.
Tetapi ia mengatakan jika dilihat pola penyebaran awal kasus ini berasal dari kelompok menengah ke atas yang hobi traveling dan sebagainya. Di mana pola interaksi mereka biasanya terbatas sehingga tidak mudah menyebar ke masyarakat lainnya.
“Ini masih perlu pendalaman lebih lanjut, tetapi ini yang saya kemudian melihat penularan tidak secepat kami kira sebelumnya,” katanya.
Ia mengatakan screening memang harus ditingkatkan agar bisa meluas untuk mengetahui orang yang dinyatakan positif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Kamis 28 Mei 2026 lengkap semua stasiun, tarif Rp8.000 dan jadwal keberangkatan pagi hingga malam.
Harga emas Pegadaian hari ini naik. Antam, UBS, dan Galeri24 kompak menguat. Simak daftar harga lengkap terbaru.
WHO menyebut Ebola Bundibugyo memiliki tingkat kematian hingga 50 persen. Wabah di Kongo dan Uganda berpotensi terus meningkat.
BMKG mendeteksi Siklon Tropis Jangmi yang picu hujan lebat dan angin kencang di Indonesia. Simak wilayah terdampak terbaru.
Temuan cacing hati pada hewan kurban di Bantul capai 493 kasus. DKPP pastikan daging tetap aman dikonsumsi masyarakat.
SIM keliling Jogja 30 Mei 2026 hadir di Alun-Alun Kidul, drive thru, dan layanan malam. Cek jadwal dan syaratnya.