Pariwisata Jadi Sektor Paling Terpuruk Akibat Pandemi Corona, 99% Biro Perjalanan di Jogja Tutup

Bangku tempat duduk di sepanjang jalan Malioboro dipasangi pembatas dari tali rafia seperti terlihat pada Selasa (21/04/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
28 April 2020 12:37 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelaku wisata di DIY akan menyasar wisatawan lokal terlebih dahulu, pasca pandemi Covid-19.

“Kita sasar yang domestiknya dulu [pasca pandemi Covid-19],” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono, Senin (27/4/2020).

Deddy menjelaskan berbagai langkah akan dilakukan oleh pelaku pariwisata dibidang hotel dan resto pasca pandemi ini. Seperti, penataan kondisi hotel dan resto. Menyiapkan secara serius properti tetap aman, sehat dan layak untuk dikunjungi.

“Meyakinkan khalayak bahwa hotel, resto DIY dari awal wabah sudah ada gerakan merti hotel, resto, yaitu serentak kita adakan penyemprotan disinfektan guyub sesarengan vs Covid19 dan dilanjutkan tiap Selasa, Jumat, dipadukan dengan destinasi di DIY yang juga melakukan hal yang sama. Hal ini masuk ke pengembalian branding,” ucapnya.

Kemudian sejumlah promo juga ditawarkan dengan harapan ada kerjasama dengan travel biro. Selain itu hotel juga menjual voucher promo yang berlaku sampai dengan Desember 2021, dengan bayar sekarang dapat harga promo nantinya.

Melihat kondisi saat ini, pihaknya juga berharap kepada pemerintah untuk tetap bisa memberikan stimulus pajak dan mengharapkan PLN bisa membantu memberikan diskon atau subsidi promo dua hingga tiga bulan ini. “Untuk yang sudah stimulus pajak, DIY sudah semua. Rata-rata setiap Kabupaten/Kota memberikan stimulus pada April sampai dengan Mei selanjutnya akan dilihat situasi kondisinya,” ucapnya.

Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan kondisi pariwisata saat ini adalah industri yang paling terpuruk, 99% biro perjalanan wisata benar-benar tutup.

“Saat situasi seperti sekarang hanya ada dua hal yang bisa dilakukan, survivenation dan preparation. Untuk target setelah pandemi, wisatawan domestic akan menjadi prioritas, mengingat wisman juga dalam kondisi yang sama,” kata Bobby.

Dijelaskannya survivenation dilakukan untuk bagaimana tetap bisa bertahan hidup, segala hal pasti dilakukan. “Sinergi dan kolaborasi dari semua stakeholder untuk tiga hal meringankan beban fixed cost, menggerakkan ekonomi lokal dan preparation and brand awarnest. Sehingga diharapkan saat pandemi ini berakhir pelaku industri pariwisata ready untuk reborn,” katanya.