Demi Keluarga, Sakir Rela Isolasi Mandiri di Kandang Kuda

Sakir berdiri di depan gubuk yang digunakan sebagai tempat karantina mandiri di Dusun Anjir, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Minggu (3/5/2020).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
10 Mei 2020 03:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Seorang warga Kokap, Kulonprogo menjalani isolasi mandiri di sebuah gubuk yang dulunya merupakan kandang kuda. Warga sadar pentingnya isolasi mandiri untuk mencegah persebaran Covid-19. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Jalu Rahman Dewantara.

Jalan setapak selebar satu meter itu menembus areal perkebunan yang sekelilingnya ditumbuhi semak belukar dan pepohonan rindang. Di ujung jalan, nampak sebuah rumah berdiri sendiri di tengah pekarangan yang masuk wilayah Dusun Anjir, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap. Jarak terdekat dengan rumah-rumah lain sekitar 100 meter.

"Mari mas," ujar Irwanto, 29, si penghuni rumah sembari mengajak para awak media mengikutinya berkeliling rumah, pada Minggu (3/5/2020) siang.

Irwanto berjalan ke samping rumahnya. Di situ ia menunjukkan sebuah gubuk berukuran enam meter persegi. Gubuk itu menempel di tembok sisi timur rumah. Atapnya menggunakan genteng berbahan tanah liat seperti yang jamak ditemui di rumah-rumah di pedesaan. Sementara dindingnya menggunakan bekas spanduk dan terpal.

Di dalam gubuk itu terdapat dua buah kursi panjang yang ditata berjejer. Kursi itu dilapisi tikar dan kasur tipis berbahan busa. Di sebelah kursi, nampak meja kecil yang di atasnya tersedia segelas teh dan aneka camilan.

"Gubuk ini dulunya kandang kuda, kemudian diubah jadi tempat penyimpanan kayu bakar, tapi kemarin saya renovasi sedikit buat tempat tinggal sementara bapak untuk isolasi mandiri," ucap Irwanto.

Di gubuk itulah Sakir, 62, yang tak lain merupakan ayah Irwanto, menjalani karantina selama 14 hari terhitung sejak kepulangannya dari Kabupaten Berau, Kalimantan Timur pada pertengahan April lalu. Sakir terpaksa pulang kampung karena dirumahkan oleh perusahaan batu bara tempatnya bekerja.

"Saya lupa tanggal berapa [kepulangan dari rantau] tapi yang pasti masih April, soalnya besok Rabu [6/5/2020] itu sudah genap 14 hari dan sudah bisa keluar," ujar Sakir.

Selama hampir dua pekan tinggal di situ, mantan kusir andong ini mengaku nyaman-nyaman saja. Dia juga tak mempersoalkan kondisi gubuk yang begitu sederhana itu, jika tak ingin disebut kurang layak. "Enggak ada masalah mas, paling cuma dikerubungi semut," ujarnya terkekeh.

Untuk membunuh kebosanan, Sakir biasa menghabiskan waktu dengan mendengarkan radio, mengingat di gubuk itu tak ada televisi. Sementara untuk asupan makanan, keluarga sudah mencukupinya dengan memberikan makanan sebanyak tiga kali sehari.

"Makanaan biasa diantar sampai depan sini [gubuk] lalu saya ambil, jadi benar-benar enggak ada kontak langsung," ucapnya.

Inisiatif Sendiri
Keputusan isolasi mandiri di gubuk itu dilandasi atas kesadaran Sakir dan keluarganya. Mereka tak ingin kepulangan bapak dua anak itu membawa penyakit bernama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan menulari keluarganya maupun masyarakat sekitar.

"Sebelum bapak pulang, saya sudah koordinasi dengan pihak dusun, tanya-tanya bagusnya bagaimana, karena kami kan cuma ada satu rumah, sedangkan kalau bapak pulang tetap tinggal di rumah nanti takutnya bawa virus," ucap Irwanto.

Irwanto kemudian mendapat pencerahan dari otoritas Dusun Anjir. Bapaknya, Sakir, tetap boleh pulang tapi mesti isolasi mandiri yang terpisah dari rumah keluarga. Irwanto lantas memutar otak bagaimana caranya agar orang tuanya itu tetap bisa tinggal tak jauh dari rumah hingga muncul ide pembuatan gubuk sederhana itu.

Kepala Dusun Anjir, Saefudin membenarkan hal itu. Sebelum Sakir pulang, pihak keluarga sudah berkoordinasi dengan dusun. Kemudian disepakati Sakir menjalani karantina di gubuk bikinan Irwanto. "Itu inisatif keluarga, dari kami ya mendukung, soalnya kan ini buat kebaikan bersama," ujar Saifudin.

Dia menambahkan selama pandemi Covid-19, setiap warga Anjir yang pulang kampung diwajibkan menjalani karantina mandiri selama 14 hari. Teknis karantina diserahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga yang bersangkutan, dengan catatan tetap mengikuti protokol penanganan Covid-19. (jalurahman@harianjogja.com)