Keluarga Remaja 15 Tahun Klaster Temboro di Berbah Negatif RDT

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
16 Mei 2020 08:17 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Penjabat Kepala Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Ari Wibowo mengatakan dua dari tiga kasus positif di Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah masih dalam perawatan isolasi rumah sakit. Saat ini hasil Rapid Diagnostic Test (RDT) terhadap keluarga keduanya sudah keluar.

Pada 9 Mei lalu, Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih menyatakan dua kasus penambahan positif di Berbah yaitu kasus 146 DIY atau 51 Sleman dengan identitas jenis kelamin laki-laki usia 15 tahun warga Sleman dan kasus 147 DIY atau 52 Sleman yaitu seorang perempuan usia 24 tahun warga Sleman.

Pasien berusia 15 tahun itu sebelumnya memiliki riwayat perjalanan dari Ponpes Temboro, Magetan sebagai santri di ponpes tersebut. Sementara, riwayat perjalanan kasus 147 masih dalam penelusuran.

"Delapan orang keluarga klaster Temboro [kasus 146] negatif RDT sehingga menjalani karantina di rumah. Sementara yang perempuan 24 tahun itu, hasil tes kedua orang tuanya reaktif. Mereka dirawat di rumah sakit sejak dua hari lalu," kata Ari kepada Harianjogja.com, Jumat (15/5/2020).

Sebelum ini, kasus pertama di Desa Kalitirto, Berbah merupakan seorang perempuan berusia 30 tahun. Ia dinyatakan sembuh pada 31 Maret setelah diisolasi di RSUP Dr. Sardjito.

Lebih lanjut, Ari yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Berbah ini menjelaskan sejatinya kasus positif di Desa Kalitirto tidak sepenuhnya merupakan warga setempat.

"Pasien sembuh itu punya rumah di Ngaglik. Yang di Berbah [remaja 15 tahun] itu KTP-nya Purwokerto. Kemudian yang perempuan 24 tahun rumahnya di Kalasan meskipun orangtuanya di sini. Jadi kita kiriman," jelasnya.

Meski begitu, pihaknya terus berupaya supaya tidak terjadi kasus positif lagi. Selain penyemprotan disinfektan dan sosialisasi kepada warga pentingnya menggunakan masker dan cuci tangan, pendataan pemudik juga selalu dilakukan.

"Dua hari ini nihil pemudik. Sekitar seminggu ini penambahan satu-dua-nihil, terkontrol yang datang. Kita pantau terus," kata Ari.

Menurutnya tidak pernah ada penolakan terhadap pemudik yang datang. Ia juga terus mengimbau warga untuk melakukan pendataan terhadap pendatang dan meminta mereka melapor ke puskesmas dan menjalankan isolasi mandiri.

"Tapi kita menyarankan warga yang dari zona merah itu tidak mudik. Kami sosialisasikan ke warga untuk menyampaikan ke keluarganya supaya tidak mudik," terangnya.

Ketika dikonfirmasi terkait penelusuran penularan pasien kasus 52 Sleman, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo masih belum memberikan respon terkait hal ini.