Bukan Gamis, Jelang Lebaran Ini Warga Lebih Banyak Berburu Baju Daster

Suasana los pakaian di Pasar Godean, Kamis (21/5/2020). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri\\n
22 Mei 2020 09:47 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Menghitung hari menjelang Hari Raya Idulfitri, stok pakaian muslim pada sejumlah pedagang di Pasar Godean, Desa Sidoagung, Kecamatan Godean, Sleman tak kunjung laku. Kali ini, daster dan celana kolor tengah jadi primadona.

Salah satu pedagang di los pakaian Pasar Godean, Rina mengatakan tren penjualan baju rumahan seperti daster, kaos oblong, dan celana kolor sudah nampak sejak sebelum memasuki bulan puasa. Makin mendekati Lebaran, rupanya minat masyarakat tak berubah ke tren baju muslim seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Sekarang yang laku celana kolor, kaos oblong, sama daster buat di rumah. Makanya kalau via online saya nawarinnya 'baju lockdown' karena yang laku baju rumahan. Kali ini mau lebaran yang baru daster-daster, bukan gamis," kata Rina pada Harianjogja.com, Kamis (21/5/2020).

Mengikuti tren itu yang menurutnya dipengaruhi anjuran pemerintah untuk merayakan hari raya dari rumah, ia juga mengubah jenis pakaian yang dikulaknya. Ia menunda mengulak baju gamis dan pakaian muslim lainnya, lalu memprioritaskan daster, piama, dan celana kolor.

Meski begitu, Rina mengakui mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan sejak pandemi Corona melanda. "Ibaratnya bilangan nolnya hilang satu. Menjelang Lebaran tahun lalu bisa Rp5 juta, sekarang cuma Rp500.000," ujarnya.

Senada dengan Rina, los pakaian milik Gito Pratikno, 60, di pasar itu juga lebih diminati pembeli yang mencari pakaian rumahan. Kalaupun ada yang membeli pakaian resmi, biasanya baju untuk anak-anak.

"Baju resmi biasanya baju anak-anak. Baju resmi orang dewasa belum banyak, paling cuma laku lima buah sehari. Kalau tahun lalu kan semua usia, komplit, laku semua," kata dia. Ia mencatat penurunan penjualannya menjelang Lebaran kali ini mencapai 50%.

Selain pakaian anak, Gito juga mengalami peningkatan penjualan pada sajadah. Ia menduga imbauan ibadah di masjid yang mengharuskan jemaah membawa sajadah sendiri-sendiri membuat alas untuk salat ini diminati. "Tapi cuma sajadah saja, mukenanya enggak," katanya.