Advertisement
Fenomena Swasensor Meluas, Akademisi UII Soroti Ancaman Ekspresi
Foto ilustrasi swasensor, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Fenomena swasensor atau self-censorship dinilai semakin meluas dari dunia jurnalistik ke kalangan aktivis dan seniman, seiring meningkatnya tekanan sosial dan politik. Hal ini ditegaskan akademisi Universitas Islam Indonesia (UII) bahwa praktik swasensor berpotensi mengancam kebebasan berekspresi di ruang publik.
Swasensor adalah penyensoran yang dilakukan oleh diri sendiri, yaitu ketika seseorang memilih menahan, mengubah, atau menghapus informasi, pendapat, atau karya sebelum dipublikasikan karena merasa ada risiko atau tekanan tertentu.
Advertisement
Perhatian terhadap fenomena swasensor tersebut mencuat setelah Manajemen Gandhi Sehat menarik album berjudul "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" dari seluruh platform digital, yang menambah daftar karya seni yang dibatasi peredarannya di tengah dinamika masyarakat.
Guru Besar Ilmu Media dan Jurnalisme UII Profesor Masduki menilai kondisi ini sebagai bentuk represi psikologis sistematis yang dapat menekan keberanian publik dalam menyampaikan pendapat.
BACA JUGA
“Ini adalah upaya menciptakan ketakutan agar aktivis, mahasiswa, hingga dosen merasa tidak aman untuk berbicara,” kata Masduki ditemui di Wisma Pojok Indah, Condongcatur, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, swasensor merupakan penyensoran mandiri ketika seseorang memilih memotong atau menghapus konten kritis karena merasa terancam oleh otoritas tertentu. Jika sebelumnya tekanan muncul dalam bentuk kekerasan fisik, kini pola represi bergeser menggunakan instrumen hukum formal serta serangan siber melalui kelompok buzzer.
Masduki menambahkan perubahan pola represi tersebut dinilai berbahaya bagi kualitas demokrasi di Indonesia, karena seniman kritis, jurnalis, dan akademisi memiliki fungsi penting menjaga nalar kritis publik. Ketika kelompok tersebut mulai melakukan sensor mandiri, ruang dialektika masyarakat berpotensi melemah secara perlahan.
Sementara itu, Manajemen Gandhi Sehat melalui pernyataan resmi di akun Instagram gandhi_sehat menyampaikan album “Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)” sejak awal dibuat sebagai karya seni yang merepresentasikan sudut pandang polos anak berusia enam tahun.
Namun dinamika masyarakat dengan berbagai penafsiran membuat pihak manajemen memutuskan menarik album tersebut dari kanal resmi. Dalam pernyataan tersebut tidak dijelaskan secara rinci penafsiran yang dimaksud, dan manajemen menegaskan keputusan swasensor dilakukan tanpa paksaan pihak mana pun.
"Untuk take down lagu di DSP butuh waktu 3-5 hari kerja kata agregator musik nya, terhitung sejak hari Jumat kemarin," kata pihak manajemen dikonfirmasi lewat akun instagram.
Kasus serupa sebelumnya juga dialami grup musik Bank Punk Sukatani yang menarik lagu berjudul Bayar Bayar Bayar dari seluruh platform musik digital.
Masduki menilai fenomena swasensor di kalangan seniman dan aktivis tersebut mencerminkan persoalan yang lebih luas dan kompleks dalam kehidupan demokrasi. “Seperti fenomena gunung es,” kata Masduki.
Ia menilai kemunculan berbagai kasus swasensor menunjukkan adanya tekanan psikologis yang tidak selalu terlihat di permukaan, namun berdampak pada ruang kebebasan berekspresi masyarakat, termasuk di kalangan kreator, akademisi, dan aktivis yang berperan dalam menjaga kritik sosial tetap hidup di ruang publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Petasan Meledak Saat Diracik, Tiga Remaja Grobogan Terluka
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- DP3 Sleman Siapkan Aplikasi Bank Data Pertanian, Ini Tujuannya
- Padusan Jelang Ramadan, SAR Siagakan Puluhan Personel di Pantai
- Sri Sultan: Pembangunan Olahraga DIY Tak Sekadar Kejar Medali
- Awal Ramadan Berpotensi Beda, MUI Kulonprogo Imbau Umat Jaga Kedamaian
- Libur Long Weekend, Pantai di Gunungkidul Ramai Pengunjung
Advertisement
Advertisement







