Psikolog UGM: ‘Indonesia Terserah’ Bentuk Kekecewaan, Bukan Benar-Benar Menyerah

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
30 Mei 2020 04:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Belum lama ini tagar ‘Indonesia Terserah’ ramai di media sosial. Munculnya tagar ini diawali dari beredarnya foto-foto para tenaga kesehatan berseragam APD menunjukkan kertas yang bertuliskan kata-kata itu.

Psikolog Sosial UGM, Prof. Koentjoro menilai kemunculan tagar tersebut sebagai bentuk ungkapan emosi kekecewaan para tenaga kesehatan kepada pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dinilai belum serius dalam menaggulangi wabah Covid-19. Aturan ataupun kebijakan yang ditetapkan sering berubah-ubah ditambah dengan belum adanya sanksi yang jelas bagi masyarakat yang melanggar aturan. Sementara, masyarakat juga dipandang tidak mematuhi sejumlah imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Ini salah satu bentuk luweh-luweh [terserah] para tenaga medis. Mereka sudah berbuat sesuatu dengan baik dan berjuang digaris depan, tapi masyarakat tidak bisa diatur,” tuturnya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Jumat (29/5/2020).

Kendati begitu, Koentjoro menyebutkan meskipun tagar bernada menyerah, bukan berarti para tenaga kesehatan lantas menyerah begitu saja dari tugasnya. Sebenarnya para tenaga medis tidak menyerah. Mereka tidak mungkin menyerah karena sudah sudah terikat dengan sumpah profesi untuk tetap menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.

“Hal ini harusnya ditangkap oleh masyarakat untuk bersikap lebih empati pada tenaga kesehatan,”jelas Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini.

Dia menyebutkan yang menjadi ketakutan para tenaga kesehatan apabila kebijakan pemerintah, seperti pelonggaran PSBB, justru akan membuka peluang penyebaran Covid-19. Belum lagi perilaku masyarakat yang tidak peduli terhadap imbauan pencegahan penularan Covid-19. Hal tersebut dikhawatirkan akan semakin menambah beban tenaga kesehatan, sementara fasilitas kesehatan terbatas.

Yang menjadi harapan utama dari tenaga kesehatan adalah masyarakat dapat berlaku disiplin. Mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 seperti rajin cuci tangan dengan sabun, memakai masker, membatasi berkegiatan di luar rumah, dan menjaga pola hidup bersih dan sehat. Dengan begitu diharapkan dapat mencegah penularan Covid-19 di masyarakat.

“Kalau masyarakat masih saja ngeyel [tidak patuh], maka saat terinfeksi Covid-19, rumah sakit sudah tidak lagi bisa menampung pasien baru. Ya harus siap risiko kalau ditolak rumah sakit karena sudah diingatkan tetap ngeyel, jadi tenaga kesehatan sangat berharap masyarakat patuh aturan,”urainya.

Menurut pandangannya tagar ‘Indonesia Terserah’ yang digaungkan para tenaga kesehatan ini merupakan langkah yang bagus untuk mengingatkan kembali masyarakat agar tidak mengabaikan imbauan pemerintah. Namun demikian, perlu ada narasi lebih lanjut yang memberikan penjelasan atas makna dari tagar tersebut.

“Pemilihan kata Indonesia Terserah ini sudah bagus bahasanya. Pada kelompok tertentu bisa memberikan sengatan, tapi masalahnya dengan perubahan di masyarakat saat ini menjadikan tidak semuanya bisa memahaminya,” paparnya.

Dia menjelaskan bahwa bahasa-bahasa simbol hanya dapat dipahami oleh orang yang memiliki kepekaan naluriah. Oleh sebab itu diperlukan penjelasan yang lebih komperehensif supaya masyarakat dapat menangkap dan memahami pesan yang disampaikan oleh para tenaga kesehatan ini. Misalnya saja sosialisasi dilakukan oleh tokoh masyarakat, pemuka agama, dan lainnya.*