Tak Hanya Rapid Test, Pemkab Sleman Bakal Gelar Swab Acak untuk Sisir Corona

Petugas laboratorium Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta tengah membongkar, memeriksa dan mendata sampel swab Covid-19 yang dikirim oleh berbagai rumah sakit di DIY-Jateng, Senin (13/4/2020), di laboratorium BBTKLPP di Jalan Imogiri Timur, Banguntapan, Bantul.-Harian Jogja - Bhekti Suryani.
15 Juni 2020 20:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Guna menyisir potensi penyebaran Covid-19, Pemkab Sleman tak hanya melakukan rapid test acak tetapi juga uji swab secara random.

Dinkes Sleman terus melacak potensi-potensi penyebaran virus Covid 19 kepada keluarga atau orang yang berhubungan dengan pasien positif Corona. Tidak hanya itu, pada Rabu (17/6/2020) besok, kegiatan rapid test massal bagi sekitar 710 pedagang di 14 pasar tetap dilanjutkan.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan kelanjutan proses rapid test kepada kontak erat pasien yang terkonfirmasi Covid-19 terus dilakukan.

Hanya saja, khusus untuk kasus siswa SPN yang terkonfirmasi positif, pelacakan dilakukan oleh Satgas Covid-19 DIY. "Untuk tracing keluarga polisi ditangani oleh Dinkes DIY bersama Polda. Kami nanti menerima hasilnya," kata Joko kepada Harianjogja.com, Senin (15/6/2020).

Tidak hanya tracing keluarga positif Covid-19, untuk mencegah munculnya penularan baru Dinkes tetap menggelar rapid test massal kedua bagi ratusan pedagang di 14 pasar di Sleman.

Selain RDT sejumlah pedagang secara random juga akan mengikuti pemeriksaan metode polymerase chain reaction (PCR) atau Uji Swab. Kebijakan tersebut dilakukan agar Pemkab memiliki gambaran awal sejauh mana penyebaran Covid-19 di pasar-pasar. Gambaran tersebut akan menentukan kebijakan Pemkab selanjutnya.

"Metode yang digunakan untuk PCR lebih ke random sampling. Hal ini dilakukan untuk menjalankan saran dari ahli epidemiologi UGM agar tidak hanya mengandalkan RDT tetapi langsung menggunakan PCR atau uji swab," katanya.

Sesuai prosedur, kata Joko, mereka yang reaktif saat menjalani RDT akan dikarantina di Asrama Haji. Bersarkan hasil swab pertama yang dijalani 30 pedagang sebanyak 17 orang hasilnya negatif. Satu orang lainnya masih menjalani proses swab kedua di RSUD Sleman.