Advertisement

Ini Penyebab Gempa Senin Dini Hari Terasa Kuat di DIY

Nancy Junita
Senin, 22 Juni 2020 - 11:47 WIB
Budi Cahyana
Ini Penyebab Gempa Senin Dini Hari Terasa Kuat di DIY Ilustrasi - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Gempa dengan magnitudo 5,1 yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur, dan terasa kuat di DIY dan Jawa Tengah pada Senin (22/6/2020) dini hari terjadi karena aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia. Getaran gempa terasa cukup kuat di DIY karena kedalaman kekuatan gempa berada pada kategori menengah.

Gempa terjadi pada pukul 02.33.08 WIB. Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) menunjukkan episenter gempa bumi dengan magnitudo 5,1 ini terletak pada koordinat 8.98 LS dan 110.85 BT , atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 91 km arah Selatan Kota Pacitan, Jawa Timur, pada kedalaman 93 km.

Advertisement

BACA JUGA: Berjejer Seenaknya di Jalan Saat Gowes, Pesepeda Jatuh & Tertabarak Motor di Bantul

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat adanya aktivitas subduksi, tepatnya subduksi lempeng Indo-Australia. Menurut BMKG, gempa ini memiliki mekanisme pergerakan turun.

Guncangan terasa kuat hingga di dalam rumah di Kota Jogja, Bantul, Sleman, Wonogiri, Tulungagung, Karangkates, dan Pacitan. Sementara, di Nganjuk, Trenggalek, Purworejo, Ponorogo, Banjarnegara, Purwokerto, Klaten dan Sukoharjo, getaran dirasakan oleh beberapa orang.

BACA JUGA: Jadi Trending Topik, Begini Status Lucu Warganet Soal Gempa Dini Hari

Supervisor Pusat Gempa Regional VII, Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta, Budi Nugroho menjelaskan gempa terasa hingga DIY, khususnya Kota Jogja, Bantul, serta Sleman karena kedalaman kekuatan gempa berada pada kategori menengah antara 60 hingga 300 kilometer dan kekuatan pada kategori lebih dari dan sama dengan 5.

BACA JUGA: Gara-Gara Bakul Ikan, Satu Keluarga di Kulonprogo Terinfeksi Corona

“Semakin dalam dan besar kekuatan sumber gempa maka area yang merasakan semakin luas,” kata Budi dikutip Antara.

Menurut dia, hal itu disebabkan energi besar yang dihasilkan akan mengalami proses pemantulan dan pembiasan gelombang berulang kali.

“Jika energinya kecil maka proses perambatan gelombang gempa hanya akan terjadi di sekitar pusat gempa,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

PBNU Siapkan Langkah Strategis Bantu Rakyat Palestina

News
| Kamis, 18 Juli 2024, 15:57 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Shoulder Season, Periode Berwisata Antiribet

Wisata
| Minggu, 14 Juli 2024, 22:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement