Proyek Pembangunan Lima Jembatan di Bantul Dilanjutkan

Ilustrasi Jembatan - JIBI
07 Juli 2020 20:01 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pemkab Bantul melanjutkan pembangunan lima jembatan yang rusak akibat Badai Cempaka 2017. Proyek yang dananya bersumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu sejatinya direncanakan pada 2018-2019, namun gagal lelang dan baru terlaksana tahun ini.

Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Rifai, mengatakan bantuan lima jembatan di Bantul senilai Rp65 miliar itu merupakan bagian dari pemulihan bencana siklon tropis Cempaka 2017. “Semoga dengan adanya jembatan ini dapat memberikan dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Rifai saat meninjau pembangunan Jembatan Kiringan, Canden, Jetis, Selasa (7/7/2020).

Sebelum meninjau proyek Jembatan Kiringan, Rifai bersama Bupati Bantul, Suharsono, dan sejumlah pejabat meninjau proyek Jembatan Gayam, Segoroyoso, Pleret dan Jembatan Kedungjati, Seloharjo, Imogiri. Ia mengatakan pemantauan tersebut sebagai bagian dari proses monitoring dan evaluasi sekaligus untuk memastikan bahwa proses pembangunan jembatan berjalan dengan baik dan sesuai dengan kontrak.

BNPB mengapresiasi progres pembangunan jembatan yang sejauh ini sesuai dengan target. Menurut dia, lima jembatan yang dibangun merupakan jembatan tipe kelas B yang biasanya dibangun di jalan kabupaten meski berada di jalan kelurahan atau desa. “Jembatan ini dibangun dengan konsep lebih baik, lebih aman dan lebih baik dari sebelumnya,” kata Rifai.

Dia mencontohkan Jembatan Kiringan, Canden, Jetis. Jembatan di Dusun Pelemadu, Desa Sriharjo, Imogiri, itu awalnya jembatan kecil yang hanya cukup dilalui sepeda motor. Kini, jembatan diganti dengan jembatan selebar tujuh meter dan panjang 84 meter dengan tiga bentang. Pembangunan jembatan tersebut dikerjakan oleh PT Telaga Pasir Kuta dengan anggaran Rp11,6 miliar dan ditargetkan selesai pada 20 September 2020.

Proyek Manajer PT Telaga Pasir Kuta, Junaedi, mengatakan progres pembangunan jembatan sudah mencapai 55%. Sejauh ini tidak ada kendala dalam proses pembangunan karena warga sekitar sangat mendukung. Jembatan itu didesain mampu menahan beban sampai 500 ton atau standar jembatan jalan kabupaten. Junaedi juga mengklaim jembatan itu aman dari banjir. “Posisinya lebih tinggi dari jalan,” kata Junaedi.

Ivan, salah seorang warga Pelemadu, Sriharjo, Imogiri, mengakui keberadaan jembatan itu sangat dibutuhkan untuk aktivitas warga terutama warga dua desa yakni Desa Canden dan Desa Sriharjo. Selama ini warga membangun jembatan sementara yang terbuat dari bambu, namun terkadang hanyut terbawa banjir. “Warga kalau mau ke Pasar Pundong harus melalui Barongan atau Pundong, memutar sampai lima kilometer,” ujar Ivan.