Pembelajaran Daring, Guru: Bikin Video Tak Semudah Mengajar di Kelas

Guru MTsN 6 Sleman, Yeti Islamawati menjelaskan materi pelajaran Bahasa Indonesia dalam sebuah video untuk pembelajaran daring. Harian Jogja - Ist
21 Juli 2020 10:27 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sejumlah kendala saat pembelajaran daring tak hanya dialami oleh siswa sekolah, melainkan juga tenaga kependidikan. Keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi membuat guru mengharapkan pelatihan pembelajaran daring diperbanyak.

Hal ini disampaikan guru SMPN 3 Prambanan, Nevi Widyastuti, 52. Guru pengampu mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) ini mengakui sebagai guru yang tak lagi muda, kemampuan memahami teknologi yang cepat berkembang ia rasa cukup sulit.

BACA JUGA : Aplikasi Pembelajaran Daring untuk Siswa di Kota Jogja Akan

"Sudah ada pelatihan dari pengawas Dinas Pendidikan untuk membuat materi pembelajaran daring. Tapi perlu lebih banyak lagi, karena guru seperti kami yang sudah di atas 50 tahun perlu ada bimbingan. Kalau yang muda-muda, lebih lancar," kata Nevi kepada Harianjogja.com, Senin (20/7/2020).

Selama belajar jarak jauh, Nevi menggunakan grup aplikasi perpesanan WhatsApp untuk membagikan materi dan tugas kepada siswa di lima kelas jenjang VIII dan IX. Sesekali, ia juga meminta siswa membaca materi dari buku paket siswa. Ketika ingin mengukur pemahaman siswa, ia memberikan mereka penugasan dengan sarana Google Form.

Sebagai pengajar IPA, belajar jarak jauh sungguh memberikan dia tantangan untuk membuat siswanya paham dengan materi yang coba ia jelaskan. Sebab, materi IPA penuh dengan visualisasi, misal gambar organ tubuh hewan. Oleh karena itu, ia sering sampaikan materi lewat video, entah membagikan video dari YouTube maupun memproduksi video sendiri.

"Video yang saya bikin sederhana saja, kebetulan saat ini masih proses pembuatan karena untuk pembelajaran hari Rabu besok," kata dia.

Meski begitu, di sisi lain, belajar jarak jauh ini diakuinya membuat guru lebih kreatif karena guru dituntut tidak gagap teknologi (gaptek).

Hal senada dilakukan Yeti Islamawati, 36. Guru bahasa Indonesia di MTsN 6 Sleman ini juga membuat video pembelajaran untuk siswanya yang kemudian dibagikan melalui YouTube dan Google Drive ke grup kelas di WhatsApp.

BACA JUGA : Masuk Zona Kuning, Kulonprogo Tetap Gelar Pembelajaran 

"Bikin video materi nggak semudah kalau mengajar di kelas. Kalau tinggal nyetel ya gampang. Kalau bikin kan harus merekam, menyunting, hingga mengunggah tayangan videonya, meskipun hanya sederhana dari PowerPoint yang saya tambahi audio," kata pengajar lima kelas jenjang VII ini.

Siaga di Luar Jam Pelajaran

Belajar jarak jauh juga membuat para guru ini harus siaga hingga di luar jam pelajaran. Sejumlah siswa yang belum memahami materi seringkali menanyakan materi untuk pengerjaan tugas sekolah di luar jam pelajaran.

 

"Ketika mengajar online, waktu yang digunakan nggak hanya ketika online itu. Di luar masih butuh koreksi tugas dan mempersiapkan materi selanjutnya, ada juga siswa yang bertanya materi," kata Yeti

Pasalnya, siswanya tidak semuanya akan paham secara langsung dengan materi yang ia sampaikan. Siswa akan menanyakan materi lewat japri (percakapan jalur pribadi).

Kendala lainnya, ada siswa yang tidak online saat ia sedang mengajar. Penyebabnya, karena kuota habis, tidak ada jaringan internet, atau sedang berbagi gawai dengan anggota keluarga yang lain. Sehingga, seringkali jam kerja Yeti justru seakan bertambah dengan harus menanggapi beragam pesan dari siswa dan wali murid yang menanyakan tugas sekolah.

Nevi juga sering mendapati pertanyaan soal materi di luar jam pelajaran dari siswanya yang ia kategorikan siswa kritis. Mereka akan mengiriminya pesan pribadi untuk bertanya soal materi atau tugas yang dia berikan.

"Biasanya pada japri karena bingung, atau jika mereka menanyakan materi yang mereka anggap susah dipahami, akhirnya saya jelaskan lewat audio voice note. Untung belum ada yang sampai menelepon saya," kata dia.

Supaya memberi jeda untuk dirinya sendiri dari tugasnya sebagai guru, ia membuat kesepakatan dengan siswanya untuk membatasi pertanyaan siswa hanya bisa disampaikan sebelum petang, selebihnya tidak akan dia respon. Ia bersyukur sejauh ini tidak ada yang melanggar kesepakatan itu.

"Saya juga manusia biasa. Menthelengi [memandang] handphone lama-lama juga pusing, apalagi siswa, kalau semua pembelajaran daring. Enak masuk sekolah," ujar Nevi.