Nenek Viral Jualan Salak di Jogja Punya 4 Rumah, Anak Klaim Tak Ada Paksaan Berjualan

Nenek viral jualan salak/Twitter
21 Juli 2020 18:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Setelah ramai diperbincangkan di media sosial dugaan pemaksaan pada seorang nenek untuk berjualan salak, anak nenek tersebut angkat bicara. Ia membantah memaksa ibunya untuk berjualan. Hal itu justru dilakukan untuk menuruti kemauan ibunya.

Supriyono (di berita sebelumnya disebut Priyono), 45, anak dari nenek bernama Mbah Sudi, 80, yang viral di media sosial lantaran menjual salak di salah satu ruas jalan di Jogja membantah telah memaksa ibunya berjualan salak. Ia mengaku hanya menuruti kemauan ibunya yang senang berjualan dan tidak ingin ibunya keliling sendirian sampai larut malam.

"Kalau ada yang bilang dipaksa itu enggak. Memang ibu saya sukanya jualan dari dulu. Pernah sampai malam belum pulang, saya cari keliling," kata Supriyono ketika ditemui awak media pada Selasa (12/7/2020).

Kepada media, ia menceritakan bahwa awal mula ibunya berjualan salak sekitar satu tahun yang lalu. Kala itu, ia masih bekerja sebagai karyawan di toko bangunan. Namun, karena seringkali mendapati ibunya belum pulang sampai larut malam karena berjualan, ia memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya dan menemani ibunya.

Soal dugaan nenek tersebut yang tidak diurus oleh keluarga dan tidak diberi makan, Supriyono juga membantah. Menurutnya, selama ini istrinya selalu menyediakan makanan setiap hari bagi ibunya, namun tidak dimakan.

"Simbah sudah sepuh, agak pikun jadi setiap kali disediakan makan tidak dimakan, justru didiamkan dan keluar rumah. Simbah malah minta makan ke tetangga, padahal di rumah ada makanan," imbuhnya.

Mbah Sudi diketahui tinggal di RT 4 RW 22 Dusun Jambon, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman. Sejatinya, ia punya empat rumah. Satu ditinggalinya bersama anak tertuanya, satu yang lain ditinggali Supriyono, Priyani, bersama ketiga anaknya, sementara dua rumah lain dikontrakkan.

Selama tidak bekerja mandiri, Supriyono menggantungkan hidup dari uang sewa rumah dan hasil jualan salak ibunya. Priyani, 47, istrinya, juga mengaku mereka tidak punya bakat berdagang, tak seperti Mbah Sudi.

"Simbah dari dulu jualan, memang masih aktif keliling. Mulai dari mlinjo, lalu salak. Memang senang jualan keliling, kami nggak memaksa," kata dia.

Pagi ini bahkan Mbah Sudi masih meminta dibelikan salak untuk ia jual lagi. Padahal, keluarga dan pengurus RT setempat sudah memintanya untuk tidak berjualan salak lagi. "Tadi masih minta 'dikulakke' salak, saya nggak turuti," kata Priyani.

Hal tersebut dibenarkan Ketua RT 4, Edi Purtopo. Ia telah meminta Supriyono untuk tidak membiarkan Mbah Sudi berjualan salak lagi. Ia juga akan melakukan pembinaan supaya Supriyono kembali mendapatkan pekerjaan.

"Anaknya itu kalau jualan salak sendiri nggak laku. Kalau ibunya laku, mungkin karena orang iba dan sudah sejak dulu terbiasa jualan," kata Edi.

Selama ini, ia selalu menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) dari Pemkab Sleman maupun bantuan lain untuk keluarga Mbah Sudi supaya perekonomian mereka terbantu. Ia juga menyarankan supaya setiap bantuan yang diterima untuk dibuat modal usaha.

"Saya sarankan BLT untuk dikembangkan, jangan langsung habis. Ke depannya kami akan rangkul supaya berbaur di masyarakat supaya dapat kerja," kata Edi.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Eko Suhargono menuturkan akan mengecek lebih lanjut keluarga tersebut dan melakukan pendekatan. Ia juga akan melakukan pembinaan untuk Supriyono.

"Anaknya bilang Simbah itu nggak mau istirahat dan nggak mau bergantung pada anak. Kami masih akan coba pendekatan, saya perintahkan pekerja sosial untuk ngecek ke sana lagi," kata Eko.

Sebelumnya diberitakan seorang nenek yang berjualan di sekitar Mancasan, Wirobrajan, Yogyakarta mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak karena sebuah video viral beredar di media sosial. Video tersebut menggambarkan seorang lansia berjualan salak di wilayah Mancasan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta dengan berjalan kaki.

Akun @infojogjaupdate me-repost story Instagram dari akun @salwaaaasb pada Minggu (19/7) yang mengunggah seorang nenek yang berjualan salak di sekitar Mancasan, Wirobrajan Yogyakarta. Nenek tersebut jalan kaki hingga menuju ke Jembatan Tamansari di Jalan Letjen S. Parman Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta.

Sang nenek ternyata sudah ditunggu oleh seseorang yang diduga anaknya yang berada di Jembatan Tamansari sesaat sebelum nenek tersebut diangkut oleh seseorang yang diduga anaknya dengan kendaraan bermotor roda tiga merek Viar.

Dalam unggahan yang mendapatkan respons netizen tersebut, video yang di-repost oleh akun @infojogjaupdate dari akun @salwaaaasb tersebut terdapat tiga sesi video.

Video pertama tersebut dituliskan, "simbah ini dipaksa suruh jualan sama anaknya, tidak dikasih makan dan minum sama anaknya, sampe kelaparan di warung saya, dan tanpa dosa anaknya nunggu di motor Tossa. Kebetulan saya dapet video plat nomer Tossa dan video anaknya, akan saya post setelah ini, tolong bantu viralkan ini supaya anaknya ditindak".