Sistem Belajar Online Munculkan Masalah Perilaku Buruk dalam Berkomunikasi

Foto ilustrasi. - Antarafoto/ Ampelsa
29 Juli 2020 09:57 WIB Lajeng Padmaratri & Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pandemi Corona membuat kegiatan sekolah siswa dialihkan dari rumah menggunakan sistem online. Tugas-tugas belajar dikirimkan melalui media sosial. Tatap muka juga dialihkan melalui aplikasi video conference.

Sistem belajar di rumah ini banyak menimbulkan berbagai persoalan, salah satunya adalah masalah literasi teknologi oleh siswa maupun guru. Kemampuan siswa untuk menggunakan teknologi sekaligus memahami materi pendidikan. Begitu pun literasi teknologi oleh guru juga turut menentukan keberhasilan proses pendidikan daring (dalam jaringan) tersebut.

Guru dituntut untuk melek teknologi agar dapat menggunakan media sosial dan internet untuk menyampaikan dan menangkap umpan balik materi pendidikan siswa. Tak hanya itu, guru juga dituntut untuk siaga jika ada siswa yang kesulitan memahami materi. Belajar jarak jauh yang merupakan sistem baru juga menjadi pekerjaan bagi guru untuk memahami dan menggunakannya.

Baca juga: Inspiratif, Warganet Ini Berikan Solusi Akses Internet untuk Belajar Online Bersama dengan Biaya Rp1.000 Per Hari

Sejumlah masalah itu kemudian memunculkan perilaku guru yang dikeluhkan oleh siswa maupun keluarga. Hal ini seperti diungkapkan oleh warganet melalui media sosial twitter.

Akun twitter @AREAJULID mengunggah sebuah tangkapan layar percakapan whatsapp antara siswa dan guru. Isi percakapan itu adalah pertanyaan tentang pengumpulan tugas. Ditampakkan chatt dari guru menggunakan kalimat dengan sejumlah tanda seru. Pengunggah menyebut kalimat itu membuatnya sakit hati.

Unggahan itu rupanya menarik perhatian warganet. Banyak warganet yang ikut menanggapi tentang permasalahan pendidikan jarak jauh yang saat ini dilakukan di Indonesia. Unggahan ini mendapatkan 11,1 ribu likes, dibagikan ulang oleh lebih dari 2 ribu kali dan dikomentari lebih dari 1,2 ribu warganet.

Warganet dengan akun @kurangesensi juga ikut membagikan tangkapan layar percakapan orang tua siswa dan guru. Ketika orang tua menanyakan kiriman raport dari guru, guru tersebut membalas dengan kalimat yang menurutnya menilai orang tua siswa kasar.

"lahh sama kaya gurunya ade aku. ini mamaku nanya baik baik, soalnya si ibunya ga ngasi kepastian brp lama harus nunggu. tapi bisa bisanya malah balik ngata ngatain mamaku kasar. heran dah bisa bisanya ada guru modelan begini," tulisnya.

Dikutip dari Suara.com, peneliti dari University of Missouri telah menemukan bahwa 94% guru sekolah menengah pertama (SMP) mengalami tingkat stres tinggi, yang dapat berkontribusi pada hasil negatif bagi siswa.

"Sangat penting bahwa kita memahami bagaimana stres berdampak pada guru SMP sehingga kita dapat menemukan cara untuk mendukung mereka," kata Keith Herman, profesor di MU College of Education, dikutip dari Science Daily.

Baca juga:Gunungkidul Mulai Buka Kembali Sekolah Meski Hanya Seminggu Sekali

Herman, bersama dengan sesama peneliti MU Wendy Reinke, Sara Prewett, Colleen Eddy dan Alyson Savale, mempelajari data yang dikumpulkan dari sembilan sekolah menengah di dua distrik sekolah kota di Midwest.

Para peneliti menemukan bahwa hampir semua guru melaporkan stres yang tinggi. Mereka juga menemukan bahwa guru bervariasi dalam cara mereka mengatasi stres.

Kelompok terbesar, 66%, melaporkan stres tinggi dan koping (cara mengatasi stres) tinggi. Lalu hampir sepertiga dari peserta, 28%, melaporkan stres tinggi dan koping yang rendah. Sedangkan hanya 6% guru sekolah menengah melaporkan tingkat stres yang rendah dan kemampuan koping yang tinggi.

"Sayangnya temuan kami menunjukkan banyak guru tidak mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengatasi stres pekerjaan mereka," kata Herman.

"Buktinya jelas bahwa stres guru terkait dengan keberhasilan siswa, sehingga sangat penting bahwa kami menemukan cara untuk mengurangi lingkungan sekolah yang penuh tekanan sambil juga membantu guru mengatasi tuntutan pekerjaan mereka," jelasnya.

Herman menyarankan bahwa distrik sekolah bisa menyediakan akses ke inisiatif dan program yang mempromosikan kesehatan mental untuk meningkatkan kondisi bagi guru SMP. Ini dapat mencakup program kesehatan, dukungan organisasi untuk guru dan intervensi kesehatan mental.

Pengalaman Guru di Jogja

Nevi Widyastuti, 52, guru mata pelajaran IPA di SMPN 3 Prambanan mengaku tak selancar guru lain yang usianya lebih muda dalam menggunakan teknologi pembelajaran. Beberapa kali, ia harus mengikuti bimbingan dan pelatihan media pembelajaran daring dari pengawas yang ditunjuk dinas pendidikan.

Belajar jarak jauh juga membuat guru harus siaga hingga di luar jam pelajaran. Sejumlah siswa yang belum memahami materi seringkali menanyakan materi untuk pengerjaan tugas sekolah.

Nevi mengaku sering mendapati pertanyaan soal materi di luar jam pelajaran. Supaya memberi jeda untuk dirinya sendiri dari tugasnya sebagai guru, ia membuat kesepakatan dengan siswanya untuk membatasi pertanyaan siswa hanya bisa disampaikan sebelum petang, selebihnya tidak akan dia respon. Ia bersyukur sejauh ini tidak ada yang melanggar kesepakatan itu.

"Saya juga manusia biasa. Menthelengi [memandang] handphone lama-lama juga pusing, apalagi siswa, kalau semua pembelajaran daring. Enak masuk sekolah," ujar Nevi.

Pengalaman lain, Yeti Islamawati, 36, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTsN 6 Sleman mengaku rela menanggapi pertanyaan siswanya sampai larut malam. Pasalnya, siswanya tidak semuanya akan paham secara langsung dengan materi yang ia sampaikan lewat pesan di grup maupun video.

"Ketika mengajar online, waktu yang digunakan nggak hanya ketika online itu. Di luar masih butuh koreksi tugas dan mempersiapkan materi selanjutnya, ada juga siswa yang bertanya materi," kata Yeti.

Kendala lainnya, seringkali ada siswa yang tidak online saat ia sedang mengajar. Penyebabnya, karena kuota habis, tidak ada jaringan internet, atau sedang berbagi gawai dengan anggota keluarga yang lain. Sehingga, seringkali jam kerja Yeti justru seakan bertambah dengan harus menanggapi beragam pesan dari siswa dan wali murid yang menanyakan tugas sekolah.

Yeti bahkan mengaku harus sesekali menomorduakan anak-anaknya saat sedang mengajar siswa dari rumah. Saat ini ia punya dua anak yang masih duduk di jenjang sekolah dasar dan juga mengikuti PJJ.

"Anak-anak saya bilang 'Masa muridnya dulu? Anaknya belum selesai'. Apalagi anak tahunya WFH itu seperti orang tuanya sedang libur di rumah, padahal enggak," kata dia.

Sumber : Suara.com