Inspiratif, Warganet Ini Berikan Solusi Akses Internet untuk Belajar Online Bersama dengan Biaya Rp1.000 Per Hari

Foto ilustrasi - Harian Jogja/Desi Suryanto
28 Juli 2020 21:14 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Pandemi Corona membuat kegiatan sekolah siswa dialihkan dari rumah menggunakan sistem online. Tugas-tugas belajar dikirimkan melalui media sosial. Tatap muka juga dialihkan melalui aplikasi video conference.

Sistem belajar di rumah ini banyak menimbulkan persoalan, salah satunya adalah ketidakmampuan ekonomi keluarga siswa sehingga tidak memiliki alat komunikasi smartphone (ponsel pintar) atau laptop.

Baca juga: 70% Siswa di Gunungkidul Kesulitan Belajar Daring

Tak hanya itu, ketika peralatan telekomunikasi bisa dimiliki, aktivitas bejalar dalam jaringan (daring) juga tidak selalu lancar. Untuk mengakses media sosial dan internet, diperlukan sinyal yang cukup baik. Namun, tidak semua daerah di Tanah Air bisa mendapatkan sinyal seluler yang baik. Kondisi ini terutama dialami warga di pedesaan. Banyak yang terpaksa harus mengungsi belajar demi mendapatkan sinyal untuk mengakses materi belajar.

Untuk mendapatkan kuota internet juga tidak murah. Pemilik smartphone atau modem harus membayar kuota puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah untuk membeli kuota internet, tergantung provider yang digunakan.

Seorang warganet membagikan sebuah solusi untuk pembelajaran online bagi lingkungan yang mengalami kesulitan. Ridwan Suryanagara melalui akun facebook membagikan tata caranya di grup Info Cegatan Jogja (ICJ).

Baca juga: Perkenalkan, Mahasiswa UNY dari Mantrijeron Jogja Ini Bernama Satu Huruf: Y

Pria yang menyebutkan dirinya menjadi ketua RT ini berinisiatif memasang jaringan internet dari PT Telkom, yakni Indihome. Tujuannya, untuk akses internet anak-anak di lingkungannya yang mengikuti sistem belajar online.

Untuk pemasangan itu, setiap keluarga diminta menabung Rp1.000 per hari yang dikumpulkan sendiri, disimpan di toples yang ditempel di dinding depan rumah masing-masing. "Jadi dalam 1 bulan setiap rumah mengumpulkan 30 ribu rupiah. Nah, ini dikumpulkan dari 55 KK," tulisnya, dikutip Selasa (28/7/2020).

Dari total uang yang terkumpul Rp1,6 juta yg terkumpul digunakan untuk beberapa keperluan, rinciannya Rp600.000 untuk membayar akses internet 50 MBPS. Sisa Rp1 juta dipergunakan untuk membeli kertas beberapa rim, beli tinta printer sehingga kalau ada tugas yang mesti di-print, tinggal di print saja tidak perlu ke warnet atau ke rental komputer. "Untuk membayar uang transport guru-guru yang mau datang mengajar di kampung kami," tambahnya.

Di balai RT pun disediakan komputer hasil sumbangan orang mampu di kampung tersebut. Anak-anak yang tidak punya smartphone dipinjami smartphone dari anak karang taruna yang mengurusi kegiatan belajar bersama di kampung tersebut.

"Anak-anak muda lulusan SMA/SMK/D3 yang masih nganggur dan mau membimbing dikasih kerjaan membimbing adik-adiknya di kampung, dibayar sehari Rp20.000 dari uang kas RT," jelasnya.

Sistem ini juga memudahkan orang tua yang harus bekerja sehingga tidak bisa mendampingi anaknya belajar. Pendampingan belajar anaknya akan dilakukan oleh pemuda-pemudi kampung yang akan menganggap para siswa seperti adiknya.

Dari uang yang terkumpul, mereka juga bisa membeli proyektor kecil yang bisa digunakan untuk mengakses Ruang Guru sehingga ditampilkan bisa lebih besar. Jadi, anak-anak bisa fokus ke layar besar tampa harus membuka ponsel.

Di masa pandemi ini, kegiatan belajar tersebut juga menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yakni mengatur jarak meja, mengecek suhu tubuh. Bahkan dengan cara ini, anak-anak menjadi terpantau kesehatannya setiap hari.

Guna menghindari penyalahgunaan, setelah proses belajar online selesai, akses internet ini dimatikan. Password juga diganti setiap hari sehingga mengantisipasi penyalahgunaan. "Karena ini hanya akses buat belajar saja bukan untuk dipergunakan untuk membuka akses youtube atau buat akses maen games. Tiap hari pasword diganti. Biar tidak dipakai sembarangan oleh anak anak yang tidak sekolah," jelasnya.

Saat dimintai konfirmasi oleh Harianjogja.com, Ridwan Suryanagara mengakui bahwa sistem tersebut benar-benar diterapkan di lingkungannya, sejak tahun 2014, dan di masa pandemi Covid-19 saat sekolah menggunakan sistem online, cara tersebut sangat bermanfaat.

Ridwan mengaku tidak bisa menyebutkan alamat lengkap lokasi tersebut namun ia menyebutkan wilayahnya di Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Ia juga menyebutkan sengaja membagikan informasi tersebut karena bisa menjadi inspirasi di daerah lain. "Untuk percontohan masyarakat kota yang sudah mulai pudar rasa kebersamaan-nya," katanya.

Unggahan tentang paparannya di grup ICJ tersebut menjadi viral. Setelah diunggah pada Selasa (27/7/2020), dalam sehari mendapatkan 10 ribu likes, dikomentari 2 ribu kali dan dibagikan ulang lebih dari 4,5 ribu kali.