Perkenalkan, Mahasiswa UNY dari Mantrijeron Jogja Ini Bernama Satu Huruf: Y

Y mengendarai sepeda motor di Kampung Gedongkiwo, Mantrijeron, Jogja. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
28 Juli 2020 15:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Warga Kampung Gedongkiwo, Mantrijeron, Jogja, memberikan nama anaknya dengan hanya satu huruf, yakni "Y". Sang bapak yakin pemberian nama Y mempunyai maksud baik. Y, mahasiswa UNY, lahir waktu krisis moneter menerpa Indonesia pada 1997 lalu.

Slamet Sugiyono, 57, warga Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Jogja mengatakan nama Y terinspirasi dari huruf hijaiyah. Huruf Ya” ada di akhir urutan huruf Hijaiyah.

“Biasanya, kalau yang terakhir itu istilahnya sempurna. Seandainya huruf Hijaiyah itu tidak ada Ya makanya belum sempurna. Y itu penyempurna,” ujar Slamet Sugiyono, ayahanda Y ketika diwawancarai di rumahnya, Selasa (28/7/2020).

BACA JUGA: Wow, Blackpink & Selena Gomez Bakal Berkolaborasi

Awalnya, saat Y lahir, Slamet sebenarnya ingin memberikan anaknya dengan nama Dasih Utami. Namun, secara mendadak ia mengganti dengan hanya satu huruf yakni Y. Musababnya, ketika Y lahir, Indonesia sedang dipukul oleh krisis moneter saat rezim Orde Baru berkuasa.

"Lalu saya ganti dengan Y, ini mendadak lho, karena waktu si Y lahir pada waktu itu sedang krisis moneter. Krisis moneter itu kan serba sulit, kebetulan dia [Y] ini biaya [lahirannya] itu paling tinggi, kakak dan adiknya malah gratis ndak bayar," ujar Slamet yang diwawancarai setelah ia menunaikan Salat Zuhur berjrmaah di masjid.

Y lahir pada 7 Desember 1997.

"Karena krisis akhirnya nama hanya satu huruf. Kan krisis. Y sendiri merupakan anak kedua dari empat bersaudara," sambung Slamet.

BACA JUGA: Operasi Patuh Baru 4 Hari, 425 Pengguna Jalan di Bantul Sudah Kena Tilang

Slamet yang sempat bekerja sebagai pegawai koperasi Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta, pernah mendapatkan kritikan dari teman-teman imbas penamaan nama anaknya yang dinilai oleh teman-temannya asal-asalan.

"Dulu memang banyak yang protes, teman-teman saya di koperasi juga bertanya-tanya, jeneng anak kok ming Y, ngko bocahe dadi minder lo," sambung Slamet.

Sempat juga terlintas di benak Slamet untuk mengganti nama anaknya dengan nama yang sangat panjang. Namun, Slamet mengurungkan niatnya karena biaya mengganti akta kelahiran tidak sedikit.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Sebut Indonesia Terjebak Aturan Buatan Sendiri

“Biaya mengganti nama itu kan Rp1,5 juta, belum lagi ada sidangnya. Jadinya yang dipertahankan adalah huruf Y. Kalau nama panjangnya adalah Aiwinur Siti Dyah Ayu Mega Ningrum Dwi Pangestuti Lestari Endang Pamikasih Sri Kumala Sari Dewi Puspita Anggraini, kalau nama panjang itu terinspirasi dari nama dalam dunia pedalangan," ujar Slamet sambil tertawa.

Sementara itu, Y mengaku nama pemberian ayahnya yang cenderung nyentrik justru memberikannya berkah.

"Nama Y pemberian ayah justru malah membawa berkah, gampang dikenali oleh orang, misalnya saya pernah melamar kerja sampingan, orang akan penasaran dengan nama saya akhirnya saya dipanggil," ungkap Y.

BACA JUGA: Kehabisan Ongkos, Wisatawan Asal Semarang Bobol Konter Handphone di Bantul

Y mengaku sewaktu masih kecil, ia belum terlalu paham namanya adalah Y. Banyak teman-temannya sewaktu TK hingga SD memanggil dirinya dengan sebutan Ayi. Sejak TK hingga kuliah Y selalu menempati urutan paling buncit dalam daftar absen.

"Banyak teman-teman saya yang nanya,  ‘Janjane jenengmu ki sopo to, mosok gur Y tok? Sik tenanan jenenge sopo?’ Akhirnya bapak saya yang memberikan penjelasan," jelasnya.

Y juga pernah mempunyai pengalaman unik. Saat mendaftar SMP, ia diharuskan untuk mengisi formulir pendaftaran. Akhirnya Y mengisi kolom nama yang sudah tertera.

BACA JUGA: Satu Petugas Kesehatan Positif, Puskesmas Bambanglipuro Tetap Buka

"Panitia minta agar dilengkapi terlebih dahulu di kolom namanya, banyak yang tidak percaya, akhirnya saya kerap bawa akta kelahiran sewaktu belum mempunyai KTP, namun semenjak mempunyai KTP saya tidak lagi membawa akta kelahiran.

Y mengaku ingin bertemu dengan orang-orang yang juga memiliki nama dengan terdiri dengan satu huruf.

"Aku juga senang ya dengan orang-orang yang memiliki nama unik. Namun aku lebih tertarik untuk mengenal lebih jauh dengan orang yang memiliki nama dengan satu huruf, aku penasaran sih, katanya sih ada tapi aku belum pernah tahu, penasaran saja kenapa bisa dinamakan seperti saya, pasti kan ada cerita-cerita di balik itu," ungkap Y.

BACA JUGA: Tangani Antrean Uji Swab, Gugus Tugas Covid-19 DIY Tempuh Cara Ini..

Saat ini, Y sedang menyelesaikan skripsi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Y mengambil jurusan Mekatronika, Fakultas Tehnik. Sembari mengerjakan skripsi ia juga nyambi dengan mengajarkan les di bidang mata pelajaran IPA.

"Saya juga kerap mengikuti kejuaraan kontes robot Indonesia dengan tim saya di kampus. Alhamdulillah juga beberapa kali mendapatkan juara satu tingkat nasional. Saya membuat robot yang bisa menari karena memang tergabung dalam divisi robot tari," terangnya.

Y mengaku tidak akan memberikan nama anaknya dengan nama yang sejenis dengan yang diberikan oleh ayahnya kepada Y. “Biar nanti nama anak saya biasa saya, jangan mempunyai nama yang seperti saya," ungkap Y sambil tersenyum.