Maracana ke MetLife: Perjalanan Pahit Messi di Tiga Final
Lionel Messi menangis di final Piala Dunia 2026, mengulang pahitnya 2014 dan 2016. Kekalahan dari Spanyol jadi mimpi buruk ketiga di usia 39 tahun.
Ilustrasi. /Bisnis-Dwi Prasetya
Harianjogja.com, BANTUL - Kian masifnya kegiatan masyarakat menerbangkan layang-layang pada malam hari di kawasan Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS), tepatnya di kawasan Desa Srigading, Sanden hingga Desa Tirtohargo, Kretek, menjadi perhatian khusus bagi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bantul.
Sebab, selain kerap menimbulkan kemacetan, warga dan wisatawan yang menyaksikan layang-layang dilengkapi lampu warna-warni dan mengeluarkan suara nyaring tersebut juga tidak memerhatikan protokol kesehatan. Banyak warga dan wisatawan tidak mengenakan masker dan berkerumun. Alhasil, potensi kian penularan Covid-19 dari kegiatan ini sangat tinggi.
“Kami sudah mendengar hal tersebut. Rencana kami akan berkoordinasi dengan Pak Bupati, untuk memohon petunjuk dan langkah mengatasinya. Bisa saja kami bubarkan, jika memang menimbulkan kerumunan dan potensi untuk penularan Covid-19,” kata Kepala Satpol PP Bantul Yulius Suharta, Minggu (23/8/2020).
Menurut dia, keputusan untuk membubarkan ini sudah sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) No.79/2020 tentang adaptasi kebiasaan baru penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di wilayahnya. Di mana, Satpol PP Bantul merupakan garda terdepan dalam penegakan aturan di Perbup tersebut.
Baca Juga: Dukung Suharsono-Totok di Pilkada Bantul, PKS Janjikan 70.000 Suara
Oleh karena itu, Yulis menyatakan patroli gabungan akan diintensifkan dengan tujuan agar protokol kesehatan benar-benar dijalankan, terutama di lokasi yang berpotensi mengundang kerumunan atau pelanggaran protokol kesehatan itu sendiri. Ia juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak membuat agenda yang mengundang pelanggaran protokol kesehatan.
“Aturannya sudah jelas. Jika rawan terhadap penyebaran Covid-19, ya kami bubarkan,” terang Yulius.
Kegiatan menerbangkan layang-layang pada malam hari di kawasan JJLS di Bantul sejatinya mulai marak dilakukan sejak awal Juni. Mereka menganggap bermain layang-layang merupakan satu bentuk hiburan yang murah. Tapi, kegiatan ini tidak diikuti dengan penerapan protokol kesehatan dan mengganggu pengguna jalan.
Baca Juga: Kakak Raja Jogja Wafat, Gamelan Kraton Tak Boleh Dibunyikan Selama 3 Hari
Puncaknya seperti yang terjadi pada Sabtu (22/8/2020) malam. Jalan lintas Jawa yang melewati Pantai Samas macet karena banyaknya warga dan wisatawan yang ingin melihat penerbangan layang-layang. Banyak mobil dan sepeda motor yang memenuhi pinggir jalan di sisi timur Jembatan Samas hingga JJLS di Desa Tirtohargo, Kretek. Warga juga enggan menerapkan protokol kesehatan.
Salah satu warga Desa Srigading, Sanden, Tejo, mengaku jika aktivitas menerbangkan layangan biasa dilakukan sejak pukul 18.00 WIB. Semakin malam, jumlah warga yang datang terus bertambah.
“Banyak wisatawan yang lewat juga berhenti untuk menonton layangan dan membuat lalu lintas sedikit tersendat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lionel Messi menangis di final Piala Dunia 2026, mengulang pahitnya 2014 dan 2016. Kekalahan dari Spanyol jadi mimpi buruk ketiga di usia 39 tahun.
Aplikasi chat Bitchat dari Jack Dorsey bisa kirim pesan tanpa internet! Gunakan Bluetooth mesh, tidak perlu nomor HP, dan terenkripsi. Sudah bisa diunduh di App
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) menjadi co-host Konferensi Internasional Digital Humanities (ICDH) ke-5 bersama Institut Teknologi Bandung (ITB)
Untidar masih membuka pendaftaran SMODS 2026 hingga 21 Juli pukul 11.30 WIB. Sebanyak 277 kursi tersedia di 29 program studi sebagai jalur terakhir masuk kampus
10 negara terbaik untuk solo traveling: Jepang, Korea Selatan, Singapura, Selandia Baru, Islandia, Portugal, Kanada, Swiss, Australia, Finlandia. Aman, nyaman,
Studi: manusia makin pendiam! Jumlah kata per hari turun 338 kata/tahun, dari 16.000 (2005) ke 12.700 (2019). Teknologi & perubahan sosial jadi pemicu. Simak se